"Saat itu saya serasa ditembak, jatuh gemetaran. Saya menderita betul dengan ucapan Kapolri itu," kenang Omi saat dalam jumpa pers di Yayasan Paramadina, Pondok Indah, Jakarta, Minggu (22 /11/2009). Omi hadir bersama Yudi Latief dan Prof Dr Bachtiar Aly, penasihat Kapolri. Omi mengenakan pakaian warna putih dengan rambut terurai.
Hati Omi tidak tenang saat itu. Bahkan sempat bermimpi buruk beberapa kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya masih menunggu kejujuran Kapolri untuk akui kesalahan beliau," alasannya.
Dalam Raker dengan Komisi III DPR, Kamis hingga Jumat dini hari (5-6/11/2099), Kapolri mencurigai KPK tidak menindaklanjuti temuan bukti aliran dana ke mantan Menhut MS Kaban dari PT Masaro Radiokom. Salah satu dugaan Kapolri, karena Wakil Ketua Pimpinan KPK Chandra M Hamzah punya kedekatan dengan MS Kaban. Kedekatan ini terkait keberadaan Cak Nur.
Memang, dalam raker itu Kapolri menyebut inisial-inisial MK, CMH, dan N. Kapolri menyebut MK sebagai pimpinan sebuah departemen yang kini tak menjabat lagi. CMH sebagai pimpinan KPK, dan N merupakan bapak dan tokoh yang sangat dihormati.
Inisial MK dibuka oleh anggota FDIP Gayus Lumbuun. Sedangkan CMH sudah diketahui bahwa itu inisial Chandra. Lantas N? Informasi yang beredar N merupakan inisial Nurcholish Madjid alias Cak Nur.
Bagaimana Kapolri mengaitkan hubungan Chandra, MS Kaban, dan Cak Nur? Informasi yang didapatkan detikcom, Kapolri menduga Chandra memiliki utang jasa terhadap Kaban, karena diperkenalkan dengan Nadia Madjid, putri Cak Nur. Lewat Kaban, akhirnya Chandra pun menikahi Nadia pada 1994 silam, meski akhirnya kedua pasangan ini bercerai. Dengan cerita inilah, Kapolri menduga Chandra tidak memproses kasus Kaban itu.
Kapolri kini telah meminta maaf atas insiden raker itu. Omi menerima permintaan maaf tersebut dan menganggap masalah telah selesai.
(mpr/nrl)










































