"100 Tiga. Yes, 100 tiga," kata salah satu penjaga toko Elegant Tang. 100 Tiga yang dimaksud adalah harga t-shirt yang dijual di toko itu diobral dengan harga HK$ 100 untuk 3 potong. Linda, penjaga toko itu, mengaku hanya bisa sepatah dua patah kata bahasa Indonesia.
"Like you are cantik. Terimakasih," kata Linda saat menjawab pertanyaan kata apa saja yang dia ketahui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkin hal ini yang membuat toko ini kerap dikunjungi wisatawan Indonesia. Bila Linda menemui wajah Indonesia, dia pun akan dengan percaya diri berkata "100 Tiga. 100 Tiga" dengan logat khasnya.
Di Hong Kong, wajah-wajah Indonesia memang gampang ditemui. Maklum selain TKI, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Hong Kong juga tidak sedikit. Data Hong Kong Tourism Board, jumlah turis Indonesia yang datang ke Hong Kong, pada September 2009 mencapai 63.685 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan jumlah pada bulan Agustus yang hanya 33.943 orang.
Â
Wajarlah bila saat menginap di Regal Riverside Hotel di Tai Chung Kiu Road nomor 34-36, Shatin, misalnya, sejumlah tamu di hotel bercakap dalam bahasa Indonesia. Atau saat berkunjung ke Harbour City melihat orang bertampang Indonesia.Â
Terlebih di Bandara Hong Kong, semakin banyak lagi orang negeri ini yang bisa ditemui. Saat cuci mata di sejumlah counter di bandara atau bergegas check in, sejumlah orang akan berbicara dalam bahasa Indonesia bahkan bahasa Jawa.
"Iku lho mbak lurus wae, sing D, (Itu loh mbak lurus terus saja. Yang D)," kata seorang perempuan memberitahu gate untuk check in penumpang yang akan ke Jakarta.
Maka tidaklah aneh bila muncul lelucon, bahasa Jawa menjadi bahasa kedua di Hong Kong. Â
(iy/amd)










































