Sopir Bus di Cheng Chau pun Mampu Menggaji TKI

Laporan dari Hong Kong

Sopir Bus di Cheng Chau pun Mampu Menggaji TKI

- detikNews
Jumat, 20 Nov 2009 15:35 WIB
 Sopir Bus di Cheng Chau pun Mampu Menggaji TKI
Hong Kong - Ketika menunggu ferry untuk menyeberang ke Pulau Cheng Chau, seorang perempuan berwajah Indonesia senyum-senyum melihat kami. Perempuan itu bernama Warsinih asal Blitar, Jawa Timur. Ia mengaku telah 4 tahun bekerja di Cheng Chau, pulau nelayan di Hong Kong.

Di pulau berpenduduk 28 ribu itu, Wasinih menjadi pekerja domestik. Ia mengaku sudah 2 kali ganti majikan di Hong Kong. "Sudah biasa Mbak, jadi ya sendiri saja," kata Wasinih saat menunggu ferry di Central Ferry Terminal.

Cheng Chau merupakan pulau di Hong Kong yang penduduknya bekerja sebagai nelayan. Pulau ini bisa dijangkau dalam waktu 30 menit hingga 1 jam dengan naik ferry dengan ongkos sekitar HK$5-18 (1 HK$ sekitar Rp 1.300) tergantung kelas ferry yang dipakai. Memasuki pulau ini akan teringat pada Kota Tua di Jakarta. Penduduk asli Cheng Chau kini semakin terdesak ke pedalaman pulau setelah pulau ini makin ramai menjadi tujuan wisatawan. Rumah mereka lantas disewakan untuk rumah sewa atau untuk penginapan.Β Β 

Rumah sewa di Cheng Chau tentu saja lebih murah dibanding dengan pusat kota di Hong Kong. Banyak pekerja seperti sopir dan pegawai restoran lantas memilih tinggal di Cheng Chau. Meski bekerja hanya menjadi sopir, warga Hong Kong ini mampu menggaji pekerja rumah tangga (PRT). Wasinih termasuk salah satu PRT dari Indonesia (TKI) yang bekerja di Cheng Chau.

Gaji sopir di Hong Kong biasanya sekitar HK$ 12 ribu. Sementara pegawai restoran mendapatkan gaji sekitar HK$ 8 ribu. "Gaji suami yang kerja jadi sopir dan istri kerja di restoran bisa mencapai sekitar HK$ 20 ribu. Mereka butuh bekerja, sementara kadang di rumah masih ada orang tua atau anak-anak yang masih kecil. Jadi banyak dari mereka yang kemudian menggaji TKI," cerita Willie Fung.Β 

Willie adalah guide Hong Kong Tourism Board (HKTB) yang membawa kami, rombongan pers dari Indonesia, untuk mencicipi Hong Kong Winter Festival dari 16-19 November 2009 yang disponsori Cathay Pacific dan HKTB.

Maka bila kemudian berjalan-jalan di Cheng Chau, saat asyik melihat-lihat laut atau memilih restoran untuk makan, ada wajah familiar dari Indonesia sedang menemani anak kecil atau para manula, hampir pasti merekalah TKI. Di Hong Kong, para TKI biasanya mendapatkan gaji sekitar HK$ 3.400.

Hong Kong kini memang sering menjadi tujuan para TKI. Di kota hutan beton ini, kesejahteraan TKI lebih bagus dibandingkan di negara lain. Para TKI di sini mendapatkan libur tiap pekan. "Tapi itu bukan karena pemerintah Indonesia yang bekerja keras untuk membela TKI, tapi pemerintah Hong Kong-lah yang bagus," cetus Apriana Chrisnawati.

Apriana adalah konsultan pada The Chinesse Rhenish Church Hong Kong Synod. Ini adalah oraganisasi yang mengurusi TKI di Hong Kong yang disponsori oleh Gereja Jerman dan Hong Kong. Meski disponsori gereja, TKI yang konsultasi ke Rhenis 90 persen lebih beragama Islam.

Menurut Apriana, kesejaheraan TKI di Hong Kong masih kalah dibandingkan tenaga kerja dari Filipina. Pemerintah Filipina sangat keras membela warganya. "Seringkali TKI mendapatkan diskriminasi. Gaji mereka lebih kecil dari pekerja Filipina. Dan sering mendapatkan kekerasan karena biasanya diam saja. "Nggak digaji juga diam, dikerasi juga diam," kata Ana, panggilan akrabnya.

Setelah melihat-lihat Cheng Chau, mulai dari pasar, pantai, Pak Tai Temple, fasilitas umum yang komplet dan mencicipi sea food di salah satu restoran, kami pun pulang. Rombongan pers Indonesia kembali menyeberang menuju Hong Kong Island.

Di tengah goncangan ombak, ferry yang kami tumpangi menayangkan sebuah film dokumenter National Geografic dengan tokoh orang-orang kulit hitam. Entah apa judul film itu, yang pasti salah satu dialognya berbunyi, hatiku sungguh sedih.

(iy/nrl)


Berita Terkait