"Kita harus bisa memahami kultur umat Islam Indonesia dalam memandang kegiatan berhaji. Tidak bisa asal membatasi. Jangankan yang tua, yang muda pun juga ingin meninggal di sini, di Makkah dan Madinah. Sehingga tidak menyoalkan kesehatan dan usia," ujar Suryadharma dalam jumpa pers kepada wartawan Media Center Haji (MCH) di Bandara King Abdul Azis Jeddah setibanya dari tanah air bersama kloter 75 JKS, Kamis (19/11/2009) siang waktu Arab Saudi.
Menurut Suryadharma, pembatasan usia jelas sulit dilakukan karena itu hal yang relatif dalam kehidupan manusia. "Tadi saya bersama jamaah kita yang usianya 70 tahun, bahkan ada yang 80 tahun, tapi mereka tetap sehat dan tetap semangat, saya jadi kagum," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai tingkat stres jamaah Indonesia yang tinggi, Suryadharma mengatakan, hal itu wajar sekali dialami oleh orang yang mengalami situasi yang sangat berbeda sekali dengan kehidupan sehari-harinya. Dicontohkan dia, kebiasaan jamaah yang tidur bersama istri atau suaminya di tanah air, tiba-tiba haru tidur bersama 8 sampai 10 orang dalam suatu kamar.
"Berbeda-beda pula keinginannya, ada yang ingin lampu terang, ada yang ingin dimatikan. Ada yang suka AC, ada juga yang maunya kipas angin. Itu belum masalah naik pesawat lama sekali, padahal sebelumnya belum pernah sama sekali," paparnya.
Kepada wartawan, Suryadharma juga kembali menegaskan tentang upaya penempatan jamaah haji Indonesia di pemondokan yang paling jauh 4 km dari Masjidil Haram pada penyelenggaraan haji 2010 mendatang. Namun, dirinya belum mengetahui tentang prosentase kemungkinan kenaikan BPIH, terkait penempatan jamaah di lokasi yang paling strategis itu.
Saat diminta tanggapan tentang perlunya peningkatan pelayanan dengan harga yang lebih efisien lagi, Suryadharma justru balik bertanya, "Bagaimana caranya ya? Harga ditekan, tapi kualitas pelayanannya naik," jawab dia.
(zal/nvc)











































