Calon Ketum PBNU Harus Steril dari Politik Praktis

Calon Ketum PBNU Harus Steril dari Politik Praktis

- detikNews
Kamis, 19 Nov 2009 20:18 WIB
Calon Ketum PBNU Harus Steril dari Politik Praktis
Jakarta - Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan dipilih pada Muktamar NU di Makassar pada Maret 2010 mendatang harus figur yang steril dari kepentingan politik praktis. Calon yang akan maju tidak akan masalah jika mempunyai pemikiran keislaman yang dianggap liberal.

"NU secara institusi maupun tokoh harus bersih dari politik praktis. Kalau soal figurnya, tidak masalah jika mempunyai pemikiran liberal. Itu sesuai dengan Khittah NU 1926," ujar Ketua Pelaksana Muktamar NU, Said Aqil Siradj dalam diskusi Liberaliasai Pemikiran Keagamaan di ruang Fraksi PKB DPR, Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/11/2009).

Acara yang dibarengi dengan syukuran atas pengukuhan gelar profesor di IAIN Sunan Ampel Surabaya kepada Dr Ali Maschan Musa ini juga dihadiri Ketua PBNU KH. Masdar F. Mas’udi, Ketua FPKB Marwan Jafar dan anggota FPKB DPR.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal pemikiran liberal di kalangan Nahdliyin, lanjut Said, selama tidak keluar dari teks, konteks dan kaidah keislaman, hal itu merupakan sesuatu yang harus terus dikembangkan dalam tradisi NU.

"Kalau kita mempersoalkan liberalisme pemikiran keagamaan Islam, ini bukti mereka tidak mengetahui sejarah pemikiran Islam. Liberalisme itu sudah terjadi sejak zaman khulafaur rasyidin dan para ulama tabiin," terangnya.

Senada dengan Said, Masdar juga sependapat soal syarat calon ketua umum PBNU harus bersih dari politik praktis. Hal itu sangat penting agar NU tidak diseret-seret untuk kepentingan politik
praktis.

Soal liberalisasi pemikiran keagamaan, menurutnya hal itu tidak akan berhenti kecuali dilarang berpikir. Jika hanya mendasarkan pada nalar murni maka akan terjadi spekulasi-spekulasi pemikiran.

"Jadi, liberalisme pemikiran keagamaan yang positif harus terus didorong. Liberalisme nalar positif juga merupakan fikih yang harus dikembangkan. Fikih itu harus menyentuh kepentingan rakyat. Toh, hal itu sudah terjadi sejak zaman sahabat Umar bin Khottob," tutur Masdar lagi.

Soal munculnya dua kelompok pemikiran keagamaan antara liberalisme dan fundamentalisme yang dipelopori oleh anak-anak muda NU seperti Ulil Abshar Abdallah, baik Said Aqil maupun Masdar menyatakan hal itu masih terjadi sampai sekarang.

"Biarkan saja bergulir secara alami dengan terus melakukan dialog intensif di internal maupun eksternal NU, sehingga pada saatnya anak muda NU memiliki tempat di struktural NU sendiri," tandas Said.

(Rez/yid)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini