Di tengah gelayut awan hitam dan sesekali petir menyambar, mereka selalu berseteru dan adu mulut. "Woi, jangan lari lo..!" teriak seorang siswa sambil berlari mengejar kelompok lain di dasar situ.
Bak Padang Kurusetra dalam pewayangan, keduanya langsung ambil kuda-kuda berkelahi. Bilah bambu yang lebih tinggi dari badan anak baru gede itu diacung-acungkan ke langit. Segala sumpah serapah keluar dari mulut kedua kelompok. "Cemen lo, sini maju!" teriak siswa lainnya.
Beberapa saat kemudian, massa salah satu kelompok siswa bertambah. Tak ayal, kelompol lainnya langsung ambil langkah seribu, kocar-kacir menyelamatkan diri.
"Beginilah sekarang. Bekas Situ jadi ajang tawuran. Kemarin malah sampai ada yang membawa golok," kisah warga sekitar, Inah (52), kepada detikcom, Kamis, (19/11/2009).
Inah merupakan salah satu warga yang tetap bertahan di bantaran tanggul Situ. Seperti Inah, Nanang (45) pun demikian. Sebagian rumahnya yang telah terhempas air bah dibiarkan terbengkelai. Setelah bendungan jebol, dia mendapat kompensasi Rp 8 juta dengan syarat harus angkat kaki dari lokasi.
"Radius 30 meter dari bendungan dan 6 meter dari sungai harus bersih dari bangunan. Katanya bulan besok sudah harus steril," kisah Nanang.
Dirinya memilih pasrah mengungsi. Dia sadar jika dia tak berwenang tinggal di tanah Dinas Tata Air DPU tersebut. Dulu kala, dia hanya menumpang dengan memberikan 'upeti' ala kadarnya ke oknum pemerintah.
"Namanya juga numpang. Kalau disuruh pindah ya pindah. Cuma dikasih uang konpensasi bangunan," kata Nanang. (asp/sho)











































