Tapi apakah semua itu sudah cukup di saat terpaan badai terus menerjang pemerintahan SBY jilid kedua ini? Apalagi wakil presidennya, Boediono, memiliki karakter yang tak jauh beda dengannya?
"SBY harus melakukan pembenahan serius dalam hal komunikasi politik," kata pengamat politik dari UGM, Abdul Gaffar Karim, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (19/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu bisa mengandalkan podium untuk menjaga image dan bisa charming di depan kamera. Tapi waktu itu diback up oleh wapres yang bisa bertindak cepat. Dengan cara itu popularitas pemerintahan stabil," papar pria asal Madura tersebut.
"Sekarang tidak bisa lagi andalkan podium karena tidak lagi didampingi wapres yang bisa bertindak cepat. Kalau cuma mengandalkan pidato berbunga-bunga, saya kira cepet anjlok."
Gaffar menambahkan, hal konkret yang harus dilakukan SBY adalah bertindak cepat menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi, termasuk menyikapi rekomendasi Tim 8.
"Misalkan terkait dengan rekomendasi Tim 8, Presiden harus melakukan itu secara konkret, tidak cuma retorika saja," imbuhnya.
Single Parent
Dalam pemerintahan saat ini, SBY menurut Gaffar ibarat single parent yang mengurusi masalah sendiri. Sebab, peran wakil presiden tidak terlalu maksimal jika dibandingkan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
"SBY secara ideal pasangannya adalah JK. Bukan orang yang sama-sama lambat. Boleh dibilang dia single parent. Kalau dulu suami istri, kini single, orang tua tunggal," Gaffar mengibaratkan.
Tapi Gaffar menduga memang kondisi seperti inilah yang diinginkan oleh SBY. Sehingga dia pun sudah memprediksikan konsekuensi apa yang akan ditanggung jika memilih Boediono sebagai wakilnya.
(anw/nrl)











































