Komunikasi Politik SBY Harus Diubah

Komunikasi Politik SBY Harus Diubah

- detikNews
Kamis, 19 Nov 2009 09:02 WIB
Komunikasi Politik SBY Harus Diubah
Jakarta - Semua orang tahu bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mahir dalam beretorika. Sikapnya yang santun, charming di depan kamera apalagi ditopang dengan penampilan fisik yang mendukung membuat pria asal Pacitan, Jawa Timur, ini tetap menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Tapi apakah semua itu sudah cukup di saat terpaan badai terus menerjang pemerintahan SBY jilid kedua ini? Apalagi wakil presidennya, Boediono, memiliki karakter yang tak jauh beda dengannya?

"SBY harus melakukan pembenahan serius dalam hal komunikasi politik," kata pengamat politik dari UGM, Abdul Gaffar Karim, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (19/11/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dulu, Presiden SBY bisa mengandalkan bicara di depan podium untuk menjawab berbagai permasalahan krusial yang muncul di Tanah Air. Tapi saat ini pidato dan charming di depan kamera saja tidak cukup.

"Dulu bisa mengandalkan podium untuk menjaga image dan bisa charming di depan kamera. Tapi waktu itu diback up oleh wapres yang bisa bertindak cepat. Dengan cara itu popularitas pemerintahan stabil," papar pria asal Madura tersebut.

"Sekarang tidak bisa lagi andalkan podium karena tidak lagi didampingi wapres yang bisa bertindak cepat. Kalau cuma mengandalkan pidato berbunga-bunga, saya kira cepet anjlok."

Gaffar menambahkan, hal konkret yang harus dilakukan SBY adalah bertindak cepat menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi, termasuk menyikapi rekomendasi Tim 8.

"Misalkan terkait dengan rekomendasi Tim 8, Presiden harus melakukan itu secara konkret, tidak cuma retorika saja," imbuhnya.

Single Parent


Dalam pemerintahan saat ini, SBY menurut Gaffar ibarat single parent yang mengurusi masalah sendiri. Sebab, peran wakil presiden tidak terlalu maksimal jika dibandingkan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"SBY secara ideal pasangannya adalah JK. Bukan orang yang sama-sama lambat. Boleh dibilang dia single parent. Kalau dulu suami istri, kini single, orang tua tunggal," Gaffar mengibaratkan.

Tapi Gaffar menduga memang kondisi seperti inilah yang diinginkan oleh SBY. Sehingga dia pun sudah memprediksikan konsekuensi apa yang akan ditanggung jika memilih Boediono sebagai wakilnya.
(anw/nrl)


Berita Terkait