"Kritik yang begitu tajam pada Komisi III sebetulnya tidak terlepas saat rapat dengan Polri. Saat Kapolri bicara ditepukin. Ini seperti menjadi humasnya Polri saja," ujar Ketua Setara Institute, Hendardi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (17/11/2009) malam.
Hendardi menuturkan, apa yang ditunjukkan Komisi III itulah yang kemudian menjadi pangkal kritikan kepada komisi hukum DPR ini. Apalagi hal itu semakin diperparah ketika Komisi III menggelar rapat dengar pendapat dengan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) berakhir ricuh.
"Ini sangat disayangkan," katanya.
Rohaniawan Romo Sandyawan juga mengungkapkan penilaiannya kepada Komisi III. Dia meminta agar Komisi III lebih peka terhadap masyarakat. Saat Polri dan Kejagung disorot karena dugaan kriminalisasi dua pimpinan KPK Bibit dan Chandra, semestinya Komisi III tidak tampil seolah-olah jadi 'pembela'.
"Seharusnya kita semua lebih peka. Untuk penegakan hukum ini. Komisi III juga harus membantu," timpalnya.
Senada dengan dua diatas, aktivis Setara lainnya, yakni Syamsuddin Radjab juga menyoroti kepemimpinan Benny K Harman dalam memimpin rapat-rapat Komisi III. Menurutnya, kepemimpinan Benny juga menyebabkan timbulnya citra negatif terhadap Komisi III.
Syamsuddin membandingkan dengan kepemimpinan Trimedya Pandjaitan yang memimpin Komisi III periode sebelumnya. Trimedya dinilainya mampu berkomunikasi dengan baik dengan mitra kerja maupun masyarakat. "Sehingga tidak terjadi kericuhan seperti yang dialami kawan-kawan kami pekan lalu," ujar Syamsuddin.
Dia pun meminta, jika Benny tak mampu memimpin Komisi dan berkomunikasi dengan masyarakat sebaiknya Benny mundur sebagai ketua dan digantikan anggota lain. "Kalau memang Pak ketua tidak mampu saya usulkan diganti saja," tukas Syamsuddin.
(Rez/ape)











































