Keliru, Ajang Kampanye Caleg Digunakan Para Capres
Sabtu, 03 Apr 2004 14:50 WIB
Jakarta - Tiga minggu masa kampanye dinilai para pengamat tak sesuai sasaran dan telah berlangsung secara keliru. Kampanye seharusnya lebih mengarah kepada fungsi-fungsi legislatif, bukan mengarah pada promosi capres seperti yang terjadi beberapa hari lalu.Juru kampanye nasional yang datang ke daerah-daerah tidak jual isu-isu lokal. Seperti misalnya seorang jurkam datang ke daerah konflik Poso, tidak membawa isu soal degradasi pertikaian antar agama yang kerap terjadi di Poso. "Kampanye selama 3 minggu kemarin ini lebih sebagai kampanye capres. Padahal seharusnya kampanye mengarah kepada fungsi legislatif, yakni pengawasan ke eksekutif," kata pengamat politik Indra J Piliang dalam peluncuran dan bedah buku Pergulatan Parpol di Indonesia, di UIN Syarif Hidayatullah, Jl Ir Juanda, Tangerang, Banten, Sabtu (3/4/2004).Sedangkan pengamat politik Fachry Ali menilai bahwa partai-partai besar seperti PDIP, Golkar dan PKB akan tetap mendominasi pemilu 2004, karena persoalan sekarang yang dikenal masyarakat adalah partai-partai yang sudah ada."Politik adalah perjuangan untuk dikenal dan tidak dilupakan orang. Jadi jangan kecewa jika rakyat memilih PDIP, Golkar, PAN dan sebagainya. Karena merekalah partai-partai yang sudah dikenal rakyat," kata FachryMenurut Fachry, paham reformasi yang digulingkan intelektual tidak dipaham rakyat. Rakyat memahami reformasi dengan adanya banyaknya demonstrasi, harga mahal dan ketidakstabilan dan keamanan negara. "Selama problem ekonomi tak terpecahkan, rakyat tak bakal memikirkan reformasi. Kita harus lihat politik Indonesia secara antropologis, sehingga terjemahan masyarakat sederhana," katanya.Sementara itu salah seorang Ketua DPP PDIP, Arifin panigoro menilai bahwa proses kampanye 3 mingu hasilnya sangat dangkal. Karena dari pengalamam berkunjung ke dearah masyarakat lebih senang dengarkan dangdut daripada pidato politik.
(jon/)











































