Demikian papar Jubir Kepresidenan Dinno Patti Djalal tentang pernyataan Presiden SBY dalam breakfast meeting on climate change Minggu (15/11/2009).
“Presiden sudah menyatakan kami bersedia naik (target penurunan emisi) sampai 41% kalau ada perkembangan yang lebih signifikan (di KTT UNFCCC di Denmark bulan depan),” ujar dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pertanyaan besarnya adalah kesepakatan antara negara maju dan besar terutama antara AS dengan seperti India dan China. Jadi memang kuncinya itu. Inggris saja targetnya hanya 20% sampai 2020,” imbuh Dinno.
Menurutnya sekarang ini ada kecenderungan mendorong agar KTT UNFCCC 2009 di Denmark tidak memberikan hasil konkret apapun. Padahal moment tersebut merupakan batu loncatan bersejarah bagi dunia menyusun kesepakatan baru dunia pasca berakhirnya masa berlaku Kyoto Protocol pada 2012 kelak.
Situasi demikian sama persis dengan yang terjadi dalam KTT UNFCCC 2007 di Bali yang baru mencapai kesepakatan pada menit-menit terakhir. Maka demi menjaga dan memastikan tindak lanjut kesepakatan yang telah tercapai di Bali, maka Presiden SBY menyatakan kesediannya untuk menghadiri KTT UNFCCC di Coppenhagen, Denmark.
“Beliau akan hadir untuk memberikan dukungan politik, dukungan moral agar Copenhagen ini sesuai yang diharapkan oleh Bali Roadman itu dapat benar-benar menjadi historic milestone menciptakan konsesus global baru pasca Kyoto. Jaga terus Bali Roadmap, hasilkan kesepakatan yang maksimal ,” jelas Dinno.
(lh/iy)











































