Kiai Takut Komunis Bangkit Lagi

Kiai Takut Komunis Bangkit Lagi

- detikNews
Jumat, 02 Apr 2004 23:22 WIB
Jakarta - Masih menakutkankah ideologi Marxisme, Leninisme dan komunikasi bagi bangsa Indonesia? Sejumlah kiai ternyata masih mengkhawatirkan ideologi komunisme akan bangkit kembali di Indonesia.Entah angin apa, tiba-tiba Pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH HM Yusuf Hasyim menyampaikan kekhawatiran bangkitnya kembali aliran komunis di Indonesia. Hal ini disampaikan paman Gus Dur itu di Kantor PBNU jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Jumat (2/4/2004). Dalam jumpa persnya, dia didampingi penyair dan budayawan Taufik Ismail.Dalam penjelasannya itu, Pak Ud begitu panggilan Yusuf Hasyim mengatakan, kejahatan kemanusiaan internasional yang dilakukan oleh Partai Komunis di 76 negara di dunia telah membantai 100 juta orang selama 74 tahun antara tahun 1917-1991. Begitu juga yang terjadi saat kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemberontakan Madiun tahun 1948 dan G30S PKI tahun 1965."Ideologi Marxisme-Leninisme (komunis) adalah anti demokrasi, pelanggar berat HAM dan penindas agama. Ini telah mengusik kami yang berkumpul di Gedung PBNU tanggal 12 Maret 2004 lalu," jelas Pak Ud saat mengawali keterangan persnya itu.Menurut Pak Ud, para kiai yang berkumpul saat itu merupakan perwakilan para korban keganasan PKI tahun 1948 dan 1965 yang datang dari berbagai daerah untuk bertukar pikiran menghadapi tantangan saat ini. Munculnya kegiatan membangkitkan ajaran komunisme diindikasikan dengan keinginan mencabut TAP MPRS nomor XXV/1966.Munculnya ide pencabutan TAP MPRS tersebut, lanjut dia, menurut kalangan kiai dan korban PKI ini akan menimbulkan kekagetan bagi rakyat, terutama yang pernah menjadi korban. Dengan mencabut TAP MPRS itu, artinya ajaran komunisme dan PKI akan hidup kembali dan siap melakukan pengkhianatan untuk yang ketigakalinya, setelah di Madiun 1948 dan Jakarta 1965."Kami tidak bisa membiarkan orang-orang yang berdalih melaksanakan HAM, hak sipil, hak dasar, demokratisasi kebebasan, dan keterbukaan, berusaha mencabut TAP MPRS itu, tukas Pak Ud.Karena seringnya Partai Komunis berhianat, sambung dia, sejumlah negara barat juga melarang aliran ini hidup kembali. Begitu juga aliran Nazisme dan Fasisme. "PKI dan komunis telah dua kali mengkhianati bangsa ini. Karena itu kita mesti bertekad menolak dicabutnya TAP MPRS itu," tambah Pak Ud.Namun begitu, lanjut dia, upaya rekonsiliasi bangsa harus terus dikembangkan untuk memulihkan hak-hak eks PKI sebagai warga negara, hak sipil dan politik tanpa mencabut TAP MPRS tersebut.Reaksi emosional justru juga diungkapkan oleh Taufik Ismail. Menurut Taufik, para penganut Marxisme-Leninisme di dunia sejak dulu sampai sekarang selalu menampilkan wajah sebagai pejuang HAM, pro-demokrasi dan tidak anti agama. "Semuanya itu topeng dan dengan mudah dapat dibuktikan itu dusta semua," tegasnya.Lanjut Taufik, Marxisme-Leninisme yang mengaku pembela HAM justru penganiaya HAM paling ganas dalam sejarah manusia. Buktinya, 500 ribu rakyat Rusia dibantai Lenin (1917-1923), 3 juta petani kulak Rusia dibantai Stalin (1929), 40 juta rakyat Rusia dibantai Stalin (1925-1953), 50 juta rakyat Cina dibantai Mao Zedong (1947-1976), 2,5 juta rakyat Kamboja dibantai Pol Pot (1975-1979) dan 1,2 juta rakyat Afghanistan dibantai rezim Afghan Merah bentukan Uni Soviet (1978-1980an).Beberapa penguasa rezim komunisme yang juga pertamanya mengaku sebagai pejuang HAM dan pro-demokrasi dilakukan oleh 24 presiden dari 21 negara komunis yang memerintah antara 44 sampai 12 tahun.Berikut datanya: Fidel Castro (Cuba) yang memerintah selama 44 tahun, Kim Il Sung (Korea Utara) 42 tahun, Enver Hoxha (Albania) 42 tahun, Josip Tito (Yugoslavia) 35 tahun, Snieckus (Lithuania) 34 tahun, Zhivkov (Bulgaria) 33 tahun, Janos Kadar (Hongaria) 31 tahun, Josef Stalin (Rusia) 28 tahun, Le Duan (Vietnam) 27 tahun, Mao Tse Tung (RRC) 27 tahun.Begitu juga di sejumlah negara lainnya yang pernah menjadi rezim komunis seperti di Guinea, Jerman Timur, Mongolia, Romania, Tanzania, Cekoslowakia, Benin, Somalia, Polandia, Mozambik dan Ethiopia."Sedangkan di Indonesia melalui PKI sempat kuat dan dua kali akan mengambil kekuasaan, tapi gagal total. Organisasi yang malang dan tertimpa kesialan karena ketahuan belangnya terlebih dahulu," tandas Taufik. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads