Kosgoro:
KPU Polusi Kemelut Bangsa
Jumat, 02 Apr 2004 23:02 WIB
Jakarta - KPU dinilai Kosgoro sebagai polusi bagi kemelut bangsa. Untuk itu perlu dilakukan peninjauan ulang agar kasus pemilu legislatif tidak terulang pada pemilu presiden."Kinerja KPU sangat merugikan bangsa Indonesia. Selain ada indikasi KKN, keberadaan KPU bukan menjadi lembaga solusi, malah menjadi polusi yang semakin mengotori kemelut bangsa yang sedang dilanda multikrisis yang seakan tak berujung."Demikian kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro Hayono Isman dalam jumpa pers di Wisma Mas Isman jalan Cik Ditiro Menteng Jakarta Pusat, Jumat (2/4/2004)."Untuk itu perlu diadakan peninjauan ulang atas keberadaan lembaga KPU sekarang ini. Paling tidak, untuk pemilihan presiden nanti bukan lagi ditangani KPU yang sekarang ini. Jika tidak diganti, maka pemilihan presiden besar kemungkinan akan terjadi seperti proses pemilihan legislatif yang sekarang ini," tukasnya.Berdasarkan data yang ada, lanjut dia, petugas Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B) yang menjadi tanggung jawab KPU kurang dilatih dengan baik. Sehingga pendataan pemilih dilakukan secara sembrono. Akibatnya banyak penduduk yang mempunyai hak pilih tidak terdaftar dan tidak mendapatkan kartu pemilih. Bahkan banyak kartu pemilih yang bersifat rancu, yaitu tidak ada pemiliknya."Kosgoro mengusulkan agar pendaftaran pemilih dilakukan secara sederhana. Cukup menunjukkan KTP dan dilakukan secara 24 jam nonstop sebelum pemungutan suara dilaksanakan," usul Hayono.Karena tindakan terhadap masyarakat yang kehilangan hak suara akibat distribusi kartu pemilih kurang baik, sambung dia, maka KPU harus siap dipidana. Sebab KPU dalam hal ini telah menghilangkan hak pilih warga negara dan melanggar hak asasi.Hayono juga mengkritik Panwaslu yang dibentuk KPU karena Panwaslu tidak pada posisi strategis dalam mengawasi KPU. Akibatnya KPU arogan dan eksklusif."Soal serangan fajar, biasanya sering dilakukan parpol tertentu di masa lalu. Apalagi di masa kini ada pengunduran Pemilu di beberapa daerah. Maka besar kemungkinan dalam Pemilu sekarang ini akan menjadi ajang serangan fajar," tandas Hayono.
(sss/)











































