"Dulunya saya, istri dan anak tinggal di sini. Tapi digerebek polisi, karena overstay, istri dan anak dipulangkan ke kampung," kata Ayidilaela Amaqrohim Lahun (41) kelahiran Lombok, Mataram, NTB, yang mengaku sudah mukim di Jeddah selama 4 tahun ini, ketika diinterogasi Seksi Pengamanan Petugas Penyelenggaran Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah di kawasan Sisha, Aziziyah, Makkah, Sabtu (13/11/2009) dini hari waktu setempat.
Ayidil pun mengaku, karena di tanah air belum punya rumah, tapi baru memiliki sebidang tanah yang kecil warisan orang tuanya, serta didesak kebutuhan biaya sekolah anaknya. Makanya, dia sebagai mukimin bekerja serabutan, mulai sebagi cleaning service, sopir, hingga joki mencium atau 'ngucup' Hajar Aswad di Masjidil Haram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayidil dari data di KTP sementara yang dikeluarkan pemerintah Arab Saudi, sesuai visanya memang bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Namun, pada bukan Juli 2009 lalu mengaku ke kota Makkah untuk menjadi sopir pribadi seorang pensiunan dosen di Ummul Quro. Entah kenapa dia lantas banting setir menjadi joki ngucup.
"Tarif ngucup antara 50 Riyal Saudi sampai 150 Riyal Saudi. Tapi kalau sepi tarifnya 20 Riyal. Tapi soal pemerasan saya tidak tahu," ujarnya ketika ditanya banyaknya joki yang melakukan pemaksaan dan sampai merebut uang jamaah calhaj.
Ketika ditanya sudah berapa lama melakukan penipuan dan pemerasan. Ayidil mengaku baru melakukannya ketika mulai memasuki musim haji ini. Kadang dirinya bisa mendapatkan lima jamaah untuk ditipunya. "Saya hanya disuruh saja untuk mencari orang (jamaah) yang sudah tua-tua untuk ditawari bantuan dan saya diminta mengaku sebagai petugas," ungkapnya lagi.
Ketika ditanya siapa yang menyuruhnya, Ayidil hanya menyebutkan satu nama, yaitu Fajaruddin, yang juga sama-sama dari Lombok. "Dia nyuruhnya seperti itu. Tapi saya sering dapat jatahnya cuma 150-200 Riyal Saudi. Kenapa segitu saya nggak ngerti," kata pria yang memiliki semacam jimat pengasihan ini.
Ketika didesak petugas seksi pengamanan tentang siapa saja komplotannya, Ayidil selalu berbelit-belit menjawab, bahkan ketika ditanya jumlah kompolotannya dia mengaku tidak tahu. Tapi dia malah mengaku siap untuk membantu teman-temannya yang juga sering melakukan tindak kriminal kepada para jamaah calon haji ini. Para jamaah calhaj, Waspadalah!
(zal/rdf)











































