Demikian kesaksian Endang yang disampaikan dalam sidang dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta, Kamis (12/11/2009).
Kesaksian itu disampaikan Endang saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cirus Sinaga menayakan apakah dirinya pernah mendengar cerita ada yang tidak suka terhadap Nasrudin.
Endang pun memaparkan cerita. Pada waktu itu sekitar pertengahan Januari 2009, Nasrudin dan Rhani baru pulang dari Kendari. Sebelum salat Magrib, Nasrudin yang biasa disapa Zul oleh Endang ini datang ke rumah.
"Pada waktu itu, saya duduk. Dia mengucapkan salam, cium tangan dan duduk di samping saya. Saya lihat wajahnya seperti orang capek. Sangat lesu. Kami berdua diam," kata Endang memulai ceritanya.
Dikatakan dia, Nasrudin kemudian menarik kursi lebih dekat ke arahnya seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan.
"Akhirnya, dia bilang, waduh Pak sepertinya ada orang yang mau mencelakakan saya," kata Endang menirukan ucapan Nasrudin saat itu.
"Siapa Zul?" tanya Endang.
"Terus dia menyebut nama Bapak Antasari," ujar Endang.
"Antasari yang mana?" cecar Endang lagi.
"Ya itu, Ketua KPK," kata Endang menirukan jawaban Nasrudin.
Endang mengatakan, Nasrudin menduga Antasari ingin membuatnya celaka karena handphone miliknya disadap.
"Pada waktu dia cerita, seperti gimana gitu. Ucapannya menggebu-gebu. Akhirnya dia berkata, saya akan laporkan kejadian di Jakarta dan di Kendari ke DPR. Rhani akan saya jadikan saksi," kata Endang.
Endang mengatakan saat Nasrudin bercerita, ada juga istrinya dan kakaknya Rhani yang ikut mendengarkannya.
"Saya bilang Zul kalau bisa selesaikan secara kekeluargaan. saya orang kecil, beliau orang besar," kata Endang.
Nasrudin saat itu hanya tertunduk. "Tetapi kemudian bilang, ya sudahlah Pak kalau begitu paling saya mati. Itu kata terakhirnya," ungkap Endang.
(aan/iy)











































