Mahasiswa Minta Polisi Teladani Jenderal Hoegeng

Demo di Semarang

Mahasiswa Minta Polisi Teladani Jenderal Hoegeng

- detikNews
Kamis, 12 Nov 2009 11:59 WIB
Mahasiswa Minta Polisi Teladani Jenderal Hoegeng
Semarang - Puluhan aktivis Jaringan Mahasiswa Katolik Peduli Bangsa mengecam kejaksaan dan Polri. Mereka memberikan tikus dan foto eks Kapolri Jenderal Hoegeng kepada perwakilan dua lembaga tersebut.

Aksi dimulai pukul 10.0 WIB dari Wisma Driyarkara, Jl Dr Cipto, Kamis (12/11/2009). Mereka longmarch ke kantor Kejati Jateng dan Polda jaraknya sekitar 3 Km.

Gabungan organisasi mahasiswa Katolik ini membawa sejumlah spanduk dan poster yang di antaranya bertuliskan,"KUHP (Keluar Uang Habis Perkara)", "Hanya tiga polisi yang tak bisa disuap, Patung polisi, Polisi tidur, dan Jendral Hoegeng (Kapolri era 1970-an)".

Di depan kantor kejati, mereka sempat menggelar aksi teatrikal. Selanjutnya, mereka menyerahkan tikus kepada perwakilan kejati.

"Ini sebagai simbol kejaksaan belum sepenuhnya mengusut tuntas kasus korupsi," kata Korlap, Y. Thianika Budiarsa.

Dari kejati, massa melanjutkan aksi ke Mapolda. Sebelum bergerak, mereka menutup mulutnya dengan lakban hitam.

Sebagai simbolisasi tuntutan, seorang pengunjuk rasa memberikan foto Hoegeng Imam Santosa. "Kami berharap polisi meneladani almarhum," kata salah satu perwakilan mahasiswa.

Aksi berjalan sangat tertib. Puluhan polisi mengawal sejak para mahasiswa tiba di kantor kejati hingga Mapolda. Mahasiswa mengakhiri aksinya dengan tabur bunga di TMP Semarang yang terletak di depan Mapolda.

Jenderal Hoegeng adalah sosok Kapolri yang dikenal bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Terbukti, memasuki masa pensiun, ia tidak punya simpanan apa pun. Untunglah para kerabatnya menghadiahinya rumah dan mobil.

Kejujuran Jenderal Hoegeng membuatnya menjadi sosok teladan serta disegani lawan dan kawan. Bahkan sampai-sampai ada guyonan di masyarakat, hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu Hoegeng dan polisi tidur.

Saat memasuki pensiun itu, ia pun ditawari menjadi duta besar di Belgia. Namun tugas itu ditolak karena merasa tidak cocok dan lebih suka tinggal di negeri sendiri. Lulusan pertama Akademi Kepolisian (1952), ini meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu 14 Juli 2004.

(try/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads