"Saya amat prihatin dengan kisruh dan kegaduhan yang terjadi di Komisi III dengan masyarakat anti korupsi. Mengapa perbedaan harus disikapi dengan emosi?" sesal Lukman saat berbincang dengan detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/11/2009).
Menurut Lukman, hal ini bukti kurangnya kesadaran demokrasi bagi kedua belah pihak. Terlebih anggota DPR yang sempat meladeni amarah rakyat yang kecewa tidak didengar aspirasinya. "Elit negeri ini belum bisa menghadapi perbedaan secara beradab," papar Lukman.
Sebenarnya Lukman berharap agar elit politik Indonesia makin memahami perbedaan. Dari perbedaan lah Indonesia menjadi kesatuan utuh. "Mengapa kedewasaan dan kearifan tidak muncul dalam menyelesaikan masalah?" pungkasnya.
Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi III DPR dengan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) berlangsung ricuh karena kedua pihak tidak sepaham. Kompak meminta DPR menghapus poin ke 3 kesimpulan raker DPR dengan Jaksa Agung yang isinya mendukung Kejagung melanjutkan kasus Bibit Chandra.
(van/yid)











































