BPHI Rawat 11 Jamaah Calhaj Sakit Kejiwaan

Laporan dari Arab Saudi

BPHI Rawat 11 Jamaah Calhaj Sakit Kejiwaan

- detikNews
Selasa, 10 Nov 2009 21:43 WIB
 BPHI Rawat 11 Jamaah Calhaj Sakit Kejiwaan
Jakarta - 11 Jamaah calon haji Indonesia tengah dirawat pihak Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). 11 orang jamaah itu dirawat karena mengalami ganggun kesehatan psikis atau gangguan kejiwaan.

Pantauan wartawan dari Media Center Haji Daker Makkah,Β  Selasa (10/11/2009) melihat beberapa orang jamaah calon haji yang mendapatkan perawatan di Ruang Inap Unit Psikiatri BPHI Daker Makkah ini. Di antara 11 jamaah calon haji yang di rawat di BPHI, satu di antaranya sudah dikembali ke kloternya, karena dianggap sudah membaik.

Semua pasien ini dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Jl Ash-Sheikh Hasan Mashati, Kholidiyah, Makkah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari 11 jamaah yang menderita kejiwaan ini, 5 diantaranya jamaah laki-laki dan 6 lainnya perempuan. Mereka ini merupakan jamaah calon haji dari Kloter Solo, Surabaya, Jakarta, Padang, Medan dan Ujungpandang. Umur jamaah yang menjadi pasien psikiatri ini antara umur 56 hingga 83 tahun.

"Para jamaah ini terganggu proes pikirnya, sehingga ada perubahan tingkah laku. Ada yang bilang aneh atau suka keluyuran," kata ahli psikiater BPHI Daker Makkah, dr Amienuddin, yang ditemui seusai menerima konsultasi seorang jamaah ini.

Dijelaskan Amienuddin, sebenarnya para jamaah yang menderita sakit ini hmpir 90 persen pernah sakit yang sama di tanah air. "Itu data yang kami daptkan. Kalau ditanya kenapa bisa lolos? Sebenarnya lolos apa tidak, kalau teratur obatnya. Kan sama dengan orang sakit lainnya. Sama kaya orang sakit diabetes, minum obat tiap hari, terkontrol apa tidak?" jelasnya seraya bertanya balik.

Yang menjadi persoalan, lanjut Amienuddin, apakah jamaah yang menjadi pasiennya itu tidak mau meminum obat, karena takut mengantuk, sehingga pikirannya kumat lagi. Persoalan kedua, karena reaksi situsional, adaptasi sosial, tidak biasa kumpul ramai-ramai.

"Itulah yang memicu timbulnya gejala-gejala seperti yang telah bapak-bapak lihat tadi," ujarnya.

Amienuddin menerangkan, gejala gangguan jiwa ini bisa dibagu dua, yaitu Neurotik atau Psikotik. Bila depresi itu merupakan bagian dari Neurotik, di mana nilai realitasnya masih bagus. Beda dengan Psikotik yang nilai realitasnya terganggu dan proses pikir dan reaksinya terganggu.

"Depresi juga ad dua, depresi biasa atau depresi psikotis, atau ada yang gabungan, makanya kita kasih kode P20," ujarnya.

Diterangkan Amienuddin, sebenarnya kasus-kasus seperti ini bisa cepat diatasi dan disembuhkan. Namun sayangnya, ketika mereka cepat sembuh, begitu dikembalikan ke rombongannya atau kloter ada yang tidak mau merawat.

"Karena tidak mungkin merawatya, takut hilang, makanya kami tampung sementara di sini dulu," imbuhnya.

Amienuddin mengatakan, angka gangguan kesehatan jiwa pada musim tahun ini diperkirkan menurun. Dia juga menyarankan, kepada masyarakat agar tidak membiarkan anggota keluarganya yang menderita sakit kejiwaan berangkat sendiri atau dititipan kepada orang lain.

"Lebih baik diantar anaknya yang merawat dengan iklas, kan ini merupakan bukti bakti kepada orang tua juga. Tapi kalau dititipkn ke orang atau anak yang baru pertama berangkat justru keiklasan kadang-kadang jadi menurun, timbul reaksi emosional. Yang sakit juga merasakan, kan mereka juga punya perasaan," tandasnya.

(zal/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads