pembentukan satuan reaksi cepat untuk penanggulangan bencana alam dibawah naungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kami melakukan rapat kordinasi yang membahas rencana pembentukan satuan reaksi cepat untuk penanggulangan bencana," ujar Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono.
Hal ini dikatakan Agung usai rapat kordinasi (rakor) tentang Sistem Penanggulangan Bencana kepada wartawan di kantornya Departemen Kesejahteraan Rakyat, Jl Medan Merdeka Barat, Selasa (10/11/2009).
Unit reaksi cepat ini, akan ditempatkan di dua wilayah di Indonesia. Wilayah Barat dan Tengah akan berpusat di Halim Perdanakusuma, DKI Jakarta.
"Wilayah timur bertempat di Bandara Udara Abdurahman Saleh, Malang. Selain itu, agar aliran bantuan tidak keduluan dari negara asing,"jelasnya.
Agung menjadwalkan pada awal Desember nanti, unit ini akan terbentuk. "Dalam melaksanakan pembentukan ini, kami menghimpun informasi dan saran-saran dengan sejumlah instansi pemerintah," katanya.
Embrio Dari TNI
Adapun embrio pembentukan unit reaksi cepat ini berasal Ketua BNPB berasal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, keterlibatan pemerintah daerah saat bencana pada jam-jam awal sangat diperlukan.
"Maka diperlukan asistensi bantuan ke pemerintah daerah, terutama pada jam-jam awal. Dalam setiap penanggulangan bencana akan melibatkan pemerintah, swasta dan masyarakat," papar Syamsul Maarif, Ketua BNPB Nasional.
Di setiap wilayah, akan ditempatkan 200 orang akan bersiaga secara bergiliran selama 24 jam. Unit ini juga akan dilengkapi dengan alat-alat baru yang akan memudahkan kerja di lapangan.
"Kita juga siapkan di setiap pangkalan itu terdapat 4 buah hercules C 130 ,
pesawat CN 235 dan Fokker 50, kapal laut 4 unit, dan helikopter,"sebutnya.
Syamsul juga menegaskan koordinasi penangulangan bencana berada di bawah naungan BNPB."Sebetulnya kami kordinasi, tapi kami berharap setelah itu satu pintu," tandasnya.
(fiq/rdf)











































