"Presiden harus lakukan reformasi penegak hukum untuk rakyat, jangan membuat dagelan hukum ala film India," demikian aspirasi Majelis Taklim Al-Idrisiyya dalam aksi di Bundaran HI.
Kelompok ini tampil paling mencolok di jantung Jakarta, Minggu (8/11/2009) pukul 09.15 WIB. Korlap majelis taklim tersebut, Pakih, mengaku membawa massa sekitar 500 orang. Semuanya mengenakan pakaian jubah dan surban warna putih. Kehadiran mereka membuat Bundaran HI yang telah padat, kian tumpah ruah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Film Anggodo sangat mempermalukan harkat dan martabat bangsa Indonesia," tegas mereka.
Majelis taklim tersebut mendesak agar Presiden menegakkan visi misi pemberantasan korupsi. "Kami menawarkan solusi yaitu reformasi penegakan hukum pada semua jajaran penegak hukum untuk menyelamatkan Indonesia dari korupsi dan penguatan KPK harus diutamakan,"
ujar Pakih.
Saat mengelilingi Bundaran HI, massa serba putih ini mengalunkan pujian pada Allah dengan menyebut nama Allah (asmaul husna) "ya hayyu" (Yang Maha hidup kekal) dan "ya qoyyum" (Yang Maha mengurus makhlukNya)." Setelah itu, massa meninggalkan Bundaran HI.
(van/nrl)










































