Di tempat itulah para jamaah calon haji berziarah ke Gua Hira di puncak gunung tertinggi di dataran Makkah.
Para peziarah yang merupakan jamaah calon haji berasal dari Turki, Pakistan,
Bangladesh, India, Irak, China, termasuk dari Indonesia berlomba-lomba mendaki jalan setapak, berumpak dan meliuk-liuk sepanjang satu kilometer lebih. Jamaah yang rata-rata berusia lanjut itu pun tidak mau kalah dengan usianya, terengah-engah dan berpeluh berupaya mencapai puncak gunung menuju Gua Hira.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Departemen Agama yang tergabung dalam Tim Media Center Haji PPIH Arab Saudi,
Sabtu (7/11/2009) dini.
"Silakan teman-teman naik ke atas. Mohon maaf, bukan saya mengajari, tolong jangan ada pikiran atau keinginan macam-macam, iklas dan ridho saja. Kalau ada keinginan macam-macam, nanti cuma capai saja hasilnya," kata Syamsul alias Hamdan Bakir, sopir Tim MCH PPIH dalam pesannya, ketika rombongan akan menaiki Jabal Nur sekitar pukul 01.00 waktu setempat.
Malam itu memang diterangi sinar bulan, tapi rombongan berjalan cukup berhati-hati karena jalur pendakian yang terjal. Beberapa kali rombongan sempat berhenti.
"Jangan dipaksakan, istirahat dulu, nanti juga sampai," ujar Maha Eka Swasta, fotografer senior Antara dan Ferimeldi, Kepala Seksi Tim MCH Daker Makkah-PPIH ini.
Dalam perjalanan mendaki gunung yang nyaris tidak ada pepohonan itu, masing-masing terdengar masing-masing membaca sholawat, istigfar dan tahmid dan takbir. Baju kami pun akhirnya basah oleh keringat. Akhirnya kami tiba di puncak gunung yang tingginya 610 meter dari permukaan laut atau 281 dari permukaan tanah, sekitar satu jam kemudian.
Di atas, rombongan bertemu seseorang berbahasa Arab menunjukan letak Gua Hiro yang letaknya memang sangat curam dan dalam. "Subanallah, Alhamdulillah," kata Agung Izzulhaq, juga reporter senior TVOne itu.
Rombongan pun langsung sholat malam di sebuah ruangan sempit berukuran 60 Cm x 300 Cm secara bergantian. Sholawat dan doa-doa terus dipanjatkan hingga pagi hari. Di ruang inilah, sekitar 1.500 tahun lalu, Nabi Muhammad SAW kerap menyendiri dan menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.
Momen itu merupakan penobatan Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi Allah, yang
saat itu berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari. Hampir semua peziarah yang datang ke tempat ini selalu mengagungkan Rasulullah SAW dengan bershalawat.
Tidak sedikit yang meneteskan air mata begitu memahami kenapa Rasulullah mau
mendaki gunung gersang dan tinggi seperti itu. Bahkan memuji begitu besarnya
kesabaran sang utusan Allah SWT dalam menghadapi kaumnya yang keras menentangnya, bahkan mengancam untuk membunuhnya.
"Gunung ini bukti kesabaran dan kezuhudan Rasulullah," ungkap salah seorang
rekan wartawan lainnya. Memang semua mengakui tingkat kesabaran, ketakwaan,
kezuhudan Rasullulah untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Salah satu upaya kezuhudannya ini dibuktikan dengan menyediri dan bertafakur di Jabal Nur selama berbulan-bulan, sehingga mendapatkan derajat ke Rasulan. Hal ini juga seperti dikatakan Rasulullah, dalam Hadist Shahih Bukhori dan Muslim, ketika ditanya seseorang, "Manusia bagaimana yang paling utama, ya Rasul?"
Nabi menjawab, "Lelaki yang berjuang dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah." Lalu lelaki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?". Rasul menjawab, "Lelaki yang tinggal di sela-sela gunung untuk beribadah menyembah Tuhannya."
(zal/lrn)











































