Isu krusial mengenai target jangka panjang dan pendanaan untuk mengatasi
perubahan iklim gagal disepakati. Negara-negara maju masih sulit ditagih komitmen pengurangan emisi, pasca habisnya Protokol Kyoto pada 2012. Akibatnya Blok Afrika sempat melakukan boikot.
Para delegasi juga belum sepakat mengenai bentuk akhir kesepakatan internasional di Kopenhagen, Denmark pada Desember 2009 mendatang. Mereka terbelah antara membuat perjanjian baru atau perjanjian yang tidak mengikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kesepakatan payung ini harus disepakati satu paket dengan kesepakatan pengurangan emisi gas rumah kaca negara-negara maju dalam konteks Protokol
Kyoto,” ujar Penasehat Senior Delegasi RI EddyPratomo, dalam rilis Dewan Nasional Perubahan Iklim yang diterima detikcom, Sabtu (7/11/2009).
Pria yang juga menjabat Dubes RI untuk Jerman ini juga menambahkan, Indonesia terus memperjuangkan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD), termasuk unsur kelautan. Sementara Ketua Pengganti Delegasi RI Agus Purnomo optimis Indonesia bisa terus meningkatkan peran demi lahirnya komitmen internasional untuk perubahan iklim.
“Indonesia akan terus berkontribusi untuk pencapaian kesepakatan akhir.Selain melalui UNFCCC, Indonesia juga memanfaatkan berbagai forum internasional untuk mendorong kesepakatan sebagai mandat Rencana Aksi Bali,” tutur Agus.
(fay/lrn)











































