Salah satu korban yang tertipu pelaku kejahatan dengan modus ini adalah Nyak Sabun binti Umar dari Kloter 04 Banda Aceh.
Saat beristirahat dan hendak minum air zamzam seusai Sa'i pada Jum'at (6/11/2009) malam, dia tiba-tiba dihampiri seorang jamaah yang mengaku dari Indonesia dengan mengenakan pakaian ihram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ali, Nyak yang merupakan korban keenam ini memang akhirnya meminta bantuan kepada orang itu untuk mengantarkannya kembali ke rombongan. Pria yang dinilainya sangat sopan itu pun mengantar Nyak ke luar Masjidil Haram dan bertemu dengan teman pria itu.
"Lalu dengan sopan ditanya surat-suratnya dan disarankan agar menyimpan uang di tas bawaannya, agar praktis. Dia menuruti saran pria yang bersama temannya itu, lalu keduanya merampas tas dan menghilang di tengah kerumunan orang," ungkap Ali.
Atas kejadian ini Ali untuk kesekian kalinya meminta jemaah jangan mau melayani orang yang bertanya tas, paspor dan surat-surat lainnya.
"Karena petugas kita hanya mengecek gelang dan kartu pemondokan, kartu pemondokan itu pun kalau jamaah bingung pulang," jelasnya.
Akibat peristiwa itu, uang Nyak Sabun sebesar Rp 5 juta dan 2000 Riyal pun raib. Sementara itu, Kaslan bin Sakiman jamaah calon haji asal Kloter 04
Solo, hari ini menjadi korban ketujuh.
Pria berusia 64 tahun kelahiran Demak tersebut mengalami kecopetan saat akan
melaksanakan umroh sunnah di Masjidil Haram. "Saat dia turun dari taksi dan
hendak masuk Masjidil Haram, dia kaget ternyata tasnya sudah terbuka dan uang Rp 5 juta dan 2600 Riyal hilang," imbuh Ali.
Dari data Sektor Khusus ini, jamaah calon haji yang mengalami tindakan kriminal mencapai 7 orang. Sedangkan, jamaah yang tersesat setiap hari berkisar antara 20 sampai 30 orang.
(zal/lrn)











































