Salah satu mahasiswa Indonesia di Belanda yang menolak agenda itu adalah Yusrizal Abu Bakar. Menurut dia, kegiatan tersebut dianggap cuma menghabiskan anggaran, di saat kiprah mereka untuk mendukung KPK dibutuhkan.
"Isinya lebih banyak jalan-jalan dan agenda yang tidak jelas," tuding Yusrilzal, mahasiswa Universitas Maastricht, Belanda, dalam surat elektroniknya kepada detikcom, Rabu (4/11/2009).
Menurut Yusrizal, dulu program studi banding selalu menjadi obyek kritik keras BEM SI terhadap kunjugan DPR RI ke luar negeri. "Sekarang malah berbalik BEM SI melakukan agenda studi banding yang pola, isi dan strukturnya sama dengan kebiasaan studi banding DPR RI," pungkas Yus yang merupakan anggota PPI Belanda.
Informasi yang dihimpun detikcom, tidak semua pelajar Indonesia di Belanda menanggapi negatif kunjungan BEM SI ini. Ada juga yang sepakat dengan alasan studi banding semacam ini sangat penting untuk sarana tukar informasi mahasiswa Indoensia dengan Belanda.
Selama 7 hari di Belanda mulai 9-15, banyak agenda yang dijadwalkan akan dilakukan delegasi BEM SI. Para delegasi menargetkan berbagai hal sebagai topik bahasan. Topik itu antara lain hal-hal umum yang berkaitan dengan kehidupan kemahasiswaan, kepemimpinan dan organisasi kemahasiswaan, minta dan bakat, kesejahteraan mahasiswa, kewirausahaan mahasiswa, dan lain-lain.
(anw/asy)











































