"Tadi malam kita sudah berbicara dengan satuan intelijen di Madinah untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi," kata Kepala Satuan Operasi Pengamanan Armina PPIH, Letkol Caj Abu Haris Mutoha, di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Shisha, Aziziyah, Makkah, Kamis (29/10/2009).
Menurut Haris, pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak bisa mengambil alih semua pengamanan jamaah calon haji. Karena itu PPIH bekerjasama dengan intelijen Arab Saudi.
Untuk mengantisipasi tindakan kriminalitas di Makkah, lanjut Haris, pihaknya juga telah mengeluarkan edaran yang berisi imbauan kepada para ketua rombongan, ketua regu dan ketua kloter untuk memperhatikan jamaahnya, tidak bepergian sendiri, dan tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal.
"Ini kita tempel juga di hotel atau pemondokan dan bisa dibaca di dalam bus," ujarnya.
Haris mengungkapkan, para pelaku kejahatan terhadap jamaah calon haji Indonesia diduga merupakan warga negara Indonesia (WNI). Pelaku diduga sulit mencari nafkah akibat habis masa tinggal dan tidak bisa mencari kerja lagi.
"Mungkin tidak ada niat, tapi kadang ini dilakukan tidak hanya satu atau dua orang," ungkapnya.
Namun begitu Haris juga meminta agar masalah kriminalitas ini tidak dikhawatirkan jamaah. Saat ini di Daker Makkah sendiri personel pengamanan berjumlah 31 orang dari TNI dan Polri yang terbagi-bagi di sektor dan daker.
(zal/nik)











































