"Sepintas seperti orang sedang main-main. Tapi kalau sudah mencoba, baru
tahu tingkat kesulitan olahraga ini sangat tinggi," kata atlet muda skateline nasional Eri Marini Yo kepada detikcom, Rabu (28/10/2009).
Untuk bisa bermain secara maksimal, harus mempunyai fisik yang bagus dan kesehatan yang bagus. Selain itu juga diperlukan sportifitas yang tinggi karena dalam pertandingan tak ada garis lintasan antar pemain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dunia skateline internasional, Indonesia memang tak terlalu dikenal. Padahal, atletnya cukup banyak jika dibandingkan negara lain. Terlebih atlet perempuan, secara kuantitas pemain Indonesia lebih dari cukup untuk menorehkan prestasi di kancah Internasional.
"Kalau di kejuaraan internasional, pemain negara luar selalu bertanya-tanya tentang skateline di Indonesia," tambahnya.
Di tingkat dunia, skateline perempuan didominasi oleh Korea Selatan, Kolombia, Jerman, China-Taipei dan New Zealand. Meski demikian, Eri punya keinginan untuk menumbangkan dominasi tersebut.
"Sudah 17 tahun saya menggeluti dunia sepatu roda. Terlalu sayang jika harus berhenti di sini. Usai skripsi dan wisuda tahun depan, aku akan kembali aktif hingga menembus juara dunia," kisah mahasiswa semester akhir di suatu universitas swasta di Jakarta Barat ini.
Bagi masyarakat, olahraga ini meski tak terbilang murah, juga tak terbilang mahal. Untuk harga sepatu roda bagi pemula, satu set sepatu sekitar Rp 600 ribu. Sedangkan untuk kelas atlet profesional harga satu set peralatan skateline mencapai Rp 15 juta.
"Kalau mau coba apa enaknya main skateline, bisa rental skateline di sebuah restoran di kawasan GOR Bung Karno. Murah kok," pungkas Eri.
(asp/nwk)











































