Aksi tersebut digelar di depan pintu gerbang Balaikota Surakarta, Rabu (28/10/2009). Dari jaket almater yang dikenakan, menujukkan mereka datang dari berbagai kampus, termasuk dari luar Jawa. Koordinator aksi, Wahyu Santoso, mengatakan peserta aksi adalah perwakilan BEM seluruh Indonesia yang sengaja datang ke Solo untuk peringatan Sumpah Pemuda.
Mereka mengecam koalisi besar parpol di pemerintahan yang lebih didasari bagi-bagi kekuasaan. Koalisi tersebut telah menjadikan komposisi tiga perempat kursi di perlemen menjadi pendukung pemerintah. Dampaknya parlemen kehilangan daya kontrol sehingga cnderung mengarahkan pemerintah menjadi diktator.
Kondisi tersebut dinilai akan kembali melemahkan iklim demokrasi di tanah air. Karena itulah, BEM se-Indonesia menyatakan akan menjadi oposisi permanen bagi pemerintahan SBY - Boediono untuk menguatkan peran oposisi demi terciptanya penyelenggaraan negara yang transparan dan berkeadilan.
Di akhir aksi, mereka melepas semua jaket almamater untuk bersama-sama menbacakan apa yang mereka sebut sebagai sumpah mahasiswa. Setelah itu mereka membubarkan diri menuju ke arah kampus UNS Solo.
"Listrik lagi krisis, namun oknum PLN menangguk keuntungan. Untuk pemasangan baru dengan daya 900 Watt biasanya Rp750 ribu, kini tarifnya bisa Rp5 juta. Ini semua kerjaan oknum PLN dibawah tampuk pimpinan Robert Aritonang," kata mahasiswa.
(mbr/djo)










































