"Memang ada rencana, paling cepat minggu depan," ujar Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lapanย Thomas Djamaluddin ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (28/10/2009).
Jatuhnya meteor pertama kali diketahui dari rekaman 11 stasiun internasional. Mereka menggunakan peralatan yang biasa digunakan untuk percobaan nuklir infrasound. "Kalau memungkinkan nanti ada peneliti Lapan yang mencoba menelusur data fisik tersebut di lokasi untuk digabungkan dengan analisis pemantau infrasound tersebut," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari tim Kanada ingin analisis data, nanti tim lapangannya dari Lapan. Tapi siapa dari Lapan yang akan ke sana (Bone) belum ditentukan," katanya.
Fenomena jatuhnya meteor, lanjut Thomas, perlu diteliti lebih lanjut sebab Indonesia merupakan negara dengan potensi sering 'dikunjungi' meteor.
"Indonesia sendiri merupakan daerah yang sangat luas, potensi masuknya meteor besar tetap ada. Kita perlu tahu bagaimana dampaknya kalau ada kejadian seperti itu berulang," pungkasnya.
(amd/nrl)











































