Lalu sebuah papan display digital berada tepat di atas tembok bagian depan bangunan itu. Bila melongok ke dalam bangunan tersebut, sebuah ruangan berisikan enam kotak kecil seperti central processing unit (CPU) komputer tersusun rapi. Di ujung ruang kecil itu, terdapat sebuah meja kecil dan kursi untuk seorang operator bekerja.
Para pekerja tersebut menyebutnya 'Pemantau Udara Pinggir Jalan' (PUPJ). Bangunan ini terletak di samping Pos Polisi Thamrin, dekat dengan Bundaran
Hotel Indonesia (HI).
Salah seorang pekerja, Bustani (37) menjelaskan, bangunan ini dipergunakan
untuk menganalisis kadar udara yang ada di daerah Jakarta.
"Kalau ingin mengetahui kadar kandungan zat di udara yang banyak apa, menggunakan alat ini. Nantinya langsung di analisis oleh komputer dan ditampilkan ke display yang derada di depan," kata Bustani kepada detikcom, Selasa ( 27/10/2009).
Hasil dari analisis tersebut nantinya akan dikirimkan langsung ke laboratorium DKI Jakarta. "Setelah itu, di Lab tersebut yang juga sebagai regional center akan dikaji hasilnya," kata dia.
Bustani mencontohkan, jika nantinya pada hasil analis PUPJ menerangkan bahwa kadar Carbon Monoksida (CO) di udara Jakarta tinggi, maka penentuan kebijakannya akan ditentukan oleh regional center.
"Misalnya CO nya tinggi, ya analisisnya kurangi dong emisinya dan tindakannya apa. Tapi yang ambil tindakan itu nanti dari pemerintah," jelasnya.
Bustani pun mengakui hasil yang dikeluarkan oleh PUPJ bersifat realtime dari alat sebelumnya yaitu Air Quality Monitoring System.
"Kalau dulunya menggunakan Air Quality Monitoring System yang analisa datanya lebih lama dan bukan untuk mengeluarkan standar pencemaran udara Jakarta," tutur pria berperawakan kurus ini.
Ada beberapa zat yang akan dianalisis oleh PUPJ ini, yaitu Particular Matter 10 Mikron, Ozon, Sulfur Dioksida, Nitrogen Dioksida, dan Carbon Monoksida.
(fiq/nwk)











































