Meski sebagian masih berduka karena adanya anggota keluarga yang jadi korban, namun banyak pula warga yang telah menjalani kehidupan seperti sebelum gempa melanda. Bahkan mereka mulai melakoni berbagai aktivitas di luar kesibukan sehari-hari.
Seperti terlihat di lapangan Imam Bonjol, Kota Padang, Minggu (25/10/2008). Di lahan yang terletak di sebelah Kantor Walikota Padang, ratusan warga menghabiskan akhir pekan dengan bersantai, nongkrong, makan-makan, serta berolah raga.
Mereka berdatangan ke tempat tersebut bersama keluarga maupun teman-teman sebaya. Namun, pada sore nan cerah itu, pengunjung lebih banyak didominasi oleh kawula muda. Para remaja usia belasan tahun tersebut tampak bersenda gurau penuh keceriaan, seolah trauma akibat gempa yang mereka alami telah hilang. Sebagian ada yang bernyanyi bersama di bagian tribun dengan alunan gitar.
"Saya baru ke sini lagi sejak adanya gempa. Dulu sering nongkrong bareng teman-teman. Ya, untuk menghilangkan suntuk saja," kata Marlis Arieska, salah satu mahasiswa STKIP PGRI, Kota Padang, saat ditemui detikcom.
Menurut Marlis, beberapa hari setelah gempa terjadi, suasana lapangan kebanggaan warga Bumi Minang itu menjadi sepi dari aktivitas warga. Sebaliknya, lapangan di tengah-tengah kota itu menjadi pusat penyaluran bantuan untuk korban gempa.
"Helikopter hilir mudik ke lapangan membawa bantuan. Bantuan itu lantas didistribusikan ke berbagai tempat," kata mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi ini.
Hamzar Suryani, warga kota padang lainnya menuturkan, ketika keadaan masih darurat, bantuan lebih cepat disalurkan melalui udara. Sebab jalan darat masih terhambat.
"Banyak jalan-jalan yang retak," jelas bapak yang berkunjung bersama anak dan istrinya itu.
Seorang pedagang minuman, Dedy, mengatakan, setiap hari, sedikitnya 5 helikopter mendarat di lapangan itu membawa bantuan ke Kabupaten Pariaman. Tenda-tenda didirikan di area tersebut untuk pengobatan korban gempa yang mengalami luka ringan hingga berat. Masih menurutnya, sebagian pengungsi juga di tampung di lokasi tersebut.
Dikatakan laki-laki asal Kabupaten Batu Sangkar itu, kegiatan penanganan korban gempa dan bantuan di lapangan Imam Bonjol mulai berkurang sejak beberapa waktu lalu. Tenda-tenda sudah dibongkar, sementara tim medis mulai meninggalkan lapangan.
"Kemarin masih ada satu helikopter, tapi hari ini tidak ada. Masyarakat sudah banyak yang berdatangan kemari untuk jalan-jalan," kata dia.
Tentu saja, bergeliatnya kembali lapangan Imam Bonjol menguntungkan para pedagang yang jumlahnya puluhan, termasuk Dedy. Pendapatanya mulai meningkat, meski belum sepenuhnya pulih seperti sebelum gempa terjadi.
"Dulu sehari saya bisa dapat Rp 200 ribu, pas gempa hingga beberapa hari langsung susut drastis cuma Rp 20-40 ribu. Tapi kini sudah 80-an ribuan setiap hari," cetus Dedy sumringah.
(irw/anw)











































