PT KA dan Pemkot Surakarta Teken MoU Operasinal KA Kuno

PT KA dan Pemkot Surakarta Teken MoU Operasinal KA Kuno

- detikNews
Jumat, 23 Okt 2009 15:47 WIB
PT KA dan Pemkot Surakarta Teken MoU Operasinal KA Kuno
Solo - PT Kereta Api (KA) dan Pemkot Surakarta meneken sebuah MoU untuk operasional sebuah rangkaian kereta api (KA) kuno. Diharapkan, keberadaan KA dengan loko uap tersebut mampu menambah daya tarik Solo sebagai salah satu kota pusaka dunia.

Tadatangan MoU dilakukan oleh Dirut PT KA Ignatius Jonan dan Walokota Surakarta Joko Widodo di Rumah Dinas Walikota Surakarta, Jumat (23/10/2009). Kedua belah pihak sepakat pengoperasian rangkaian KA kuno dengan dua gerbong tersebut sebagai bagian menjaga nilai sejarah perkeretaapian dan juga upaya pencitraan kota sebagai kota bersejarah.

KA kuno berlokomotif uap dengan seri C 1218 buatan Jerman tahun 1896 tersebut didatangkan dari Museum Kereta Api Ambarawa. Rute yang ditempuh adalah jalur tengah kota dari Stasiun Purwosari hingga Stasiun Kota berjarak 5,6 km. Rute ini adalah bagian dari rute KA yang diresmikan pada 1 April 1923 dan kemudian dioperasikan oleh Netherlands Indische Spoorwage (NIS) sebuh perusahaan swasta Pemerintah Hindia Belanda.

Di sepanjang rute disiapkan tujuh titik pemberhentian untuk memberi kesempatan kepada wisatawan menikmati obyek wisata di tengah kota. Agar semakin memikat dan menambahkan kesan kuno, KA tersebut diberi nama Kereta Kluthuk Jaladara. Nama Jaladara diambil dari nama salah satu tokoh pewayangan yang kuat dan perkasa.

"Ini bukan soal untung dan rugi untuk operasinal kereta tersebut. Kami lebih berpikir pada nilai kesejarahan yang harus diselamatkan dan juga upaya pencitraan Solo sebagai salah satu kota pusaka dunia dengan semboyan Solo masa depan adalah Solo masa lalu," ujar Walikota Joko Widodo, yang langsung dibenarkan Dirut KA.

Lebih lanjut Dirut KA, Ignatius Jonan, mengatakan operasional kereta kuno seperti ini baru pertamakali dilakukan dengan pihak daerah. Meskipun sebelumnya sudah ada operasional KA tambang di Sawahlunto, namun nilai yang dikandung berbeda yang ada di Solo.

Jonan juga menambahkan, asap sisa pembakaran kayu jati untuk pembakaran KA kuno tersebut lebih ramah lingkungan daripada sisa pembakaran dari bahan bakar fosil. "Meskipun kelihatan tebal, tapi asap dari kayu jati ini jauh lebih ramah lingkungan. Tidak ada timbel dalam asap kayu," ujarnya.

Bagi wisatawan yang hendak menikmati pesona Solo dengan kereta antik ini, silakan merogoh kocek Rp 100 ribu untuk sekali jalan. Sedangkan bagi yang mampu menunjukkan KTP Solo, cukup dengan membayar Rp 30 ribu saja.

(mbr/djo)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads