"Saya pribadi tidak suka dengan reality show Cikeas, orang yang gagal menjadi malu karena terlalu berbau pencitraan. Misalnya Nila, sudah terlanjur diekspose besar-besaran lewat media tapi tidak lolos," kata pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia Effendi Ghazali pada detikcom melalui telepon, Jumat (23/10/2009).
Untuk menghindari kejadian serupa, menurut Effendi, sebaiknya mekanisme seleksi menteri harus diubah. Paling tidak harus ditambah jumlah peserta seleksinya sampai dua kali lipat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih, menurut Effendi, dalam komunikasi politik tidak mengenal fit and proper test, SBY hanya perlu menunjuk dan memberi tugas menteri yang dipilihnya.
"Dalam komunikasi politik yang dilakukan bukan fit and proper test tapi lebih kepada konfirmasi dan wejangan, " pungkasnya.
(van/nrl)










































