"Kita heran listrik saban hari padam 12 sampai 15 jam lamanya. Tapi rekening tagihan listrik bukan berkurang, tapi malah bertambah minimal 10 persen," cerita Zulkarnain warga Pekanbaru kepada detikcom, Jumat (23/10/2009).
Zul bercerita, jika pemadaman dilakukan 12 jam per hari saja, maka dalam sebulan sama artinya dengan listrik hanya hidup 15 saja. Meski tidak ada penambahan daya di rumahnya, namun rekening listrik tetap saja tidak pernah berkurang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain listrik yang saban hari padam 15 jam, katanya, namun PLN Riau tetap saja berlaku galak. Bila warga telat membayar, tanpa ada basa-basi PLN akan memutus hubungan listrik ke rumah warga.
"Giliran kita telat bayar, mereka main putus saja. Inikan sama saja PLN mau enaknya saja, sialnya kita yang menanggung," kata Aritonang jengkel.
Menurut Direktur Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Riau, Sukardi, mestinya PLN tidak bersikap kaku dalam mengatasi keterlambatan warga dalam membayar tunggakan listrik. Tindakan tegas memang diperlukan soal pembayaran.
"Tapi kan mestinya PLN juga sadar diri, mereka tidak pernah memberikan pelayanan maksimal pada pelanggannya. Janganlah hanya kesalahan pelanggan yang dilihat, PLN juga koreksi diri apakah mereka sudah maksimal memberikan pelayanannya?" kata Sukardi.
Mestinya sebagai bentuk konsekuensi atas pemadaman bergilir yang tak kunjung teratasi ini, kata Sukardi, PLN memberikan potongan harga. Karena secara hitungan sederhana, semakin sedikit pemakaian daya listrik semakin hemat membayar tagihan listrik.
"Tapi faktanya, rekening pelanggan bukan berkurang selama pemadaman, tapi malah bertambah. Kondisi ini kan sangat aneh sekali, kita memang perlu bertanya dari mana rumusnya tagihan listrik membengkak dengan pemakaian yang yang semakin minim," kata Sukardi. (cha/lrn)










































