"Terus terang kita cukup surprise. Saya tahu sekali Profesor Nila Moeloek itu adalah sehat. Justru yang diangkat adalah dia yang dikenal dekat dengan negara asing dan lembaga penelitian asing yang merugikan rakyat Indonesia. Saya prihatin sekali," ujar Din Syamsudin sebelum acara seminar politik "Harapan dan Tantangan Kabinet SBY 2009-2014" di auditorium utama UIN Syarif Hidayatulah, Ciputat, Tangerang, Kamis (22/10/2009).
Menurut dia, penunjukan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes telah mempermalukan dua orang sekaligus, yakni Siti Fadilah Supari sebagai menkes lama yang membantu dan sukses dan Nila Juwita Moeloek sebagai calon menkes yang telah diaudisi dan ikut tes kesehatan tapi tidak jadi dipilih. Dia menganggap cara SBY memilih kandidat menteri-menterinya cukup dramatis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sangat tidak elok. Saya menyayangkan cara Presiden SBY. Masih ada cara lain yang lebih elegan," tutur dia.
Di samping itu, Din Syamsudin juga meragukan Presiden SBY ke depan mampu merealisasaikan janji-janjinya seperti yang disebutkan saat pelantikan kemarin. Misalnya mengenai kekompakan dan kebersamaan.
"Saya ragu karena saya lihat selama ini, SBY masalahnya ada pada komunikasi politik. Pernyataan itu lebih bersifat supervisial," ucap Din yang saat pilpres mendukung JK ini.
Namun Din menilai pemerintahan harus diberi kans untuk bekerja lebih dulu. "Terlalu pagi kita menilai, jangan timbulkan pesismisme," pungkasnya.
(nvc/nrl)











































