"Itu bukan sentimen pribadi. Sekalipun dikatakan sentimen pribadi, itu tidak bisa dijadikan alasan mengalahkan kepentingan publik," kata pengamat politik Universitas Indonesia Arbi Sanit pada detikcom, Kamis 922/10/2009).
Menurut Arbi, menteri baru harus menerima kritikan secara rasional. Pembahasan mengenai Namru-2 merupakan hal yang layak diperbincangkan karena bisa dijadikan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan.
"Itu suatu diskusi yang sehat, karena jika dilanjutkan kerjasama itu, jangan-jangan ada kebijakan baru yang mengganggu sikap pemerintah di bidang kesehatan," jelasnya.
Lebih lanjut, pria asal Sumatera Barat ini mengatakan, pemaparan Siti bukanlah untuk mengganjal hak prerogatif presiden. Pemaparan Siti justru dianggap bentuk keberpihakan kepada rakyat.
"Jadi menteri yang baru harus rasional, tidak boleh tersinggung. Tidak ada penjegalan hak prerogratif," pungkasnya.
Dengan mengemukakan hal tersebut, Siti Fadila justru dianggap mampu menyorot hal yang layak untuk dipertimbangkan. Ini karena Namru-2 sebelumnya memiliki latar belakang yang berkaitan dengan kedaulatan negara dan kerjasama dengan luar negeri.
"Dia pasti punya alasan untuk menyampaikannya. Itu suatu diskusi yang sehat, karena jika dilanjutkan kerjasama Depkes dan Namru, jangan-jangan ada kebijakan baru yang mengganggu sikap pemerintah di bidang kesehatan," jelasnya.
Ditanyai komentarnya tentang sosok Endang, Arbi mengaku belum bisa melihat arah kebijakan yang akan diambil Menkes baru ini nantinya.
"Saya tidak kenal dengan yang baru, tapi saya percaya menteri yang lama itu kenal dengan menteri yang baru. Jadi menteri yang lama tentu punya alasan untuk menyampaikan itu," pungkasnya.
(nov/nrl)











































