Pantauan detikcom, nampak ruangan kerja Juwono sudah agak lengang. Hanya ada beberapa tumpukan buku di meja kerja yang belum sempat dibawa pulang.
"Ini buku-buku yang belum saya baca, belum sempat saya bawa pulang," kata Juwono saat ditemui di ruang kerjanya, di kantor Dephan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2009).
Sementara, masih ada 2 rak lemari dengan tumpukan buku masih terpajang rapih. Kebanyakan, buku tersebut adalah koleksi pribadi Juwono selama 5 tahun menjabat menteri.
Kumpulan bacaan Juwono lebih didominasi buku tentang politik, budaya dan sejarah luar negeri. Tentunya, semua asli dari luar dan berbahasa asing.
Buku-buku ini nantinya tidak ia bawa pulang. Juwono berniat untuk menghibahkannya kepada Departemen Pertahanan.
Sebagai tanda mata, Juwono pun tak segan membagi-bagikan sebagian buku kepada para wartawan. Mulai dari buku politik the Soldier and the state karangan Samuel P Hutington hingga buku sejarah Destiny Distrupted A History Of The World Through Islamic Eyes karya Tamim Ansary.
"Wah, seperti ketiban durian runtuh," kata salah seorang wartawati yang mendapat 4 buah buku.
Rencananya, setelah lengser Juwono akan kembali ke dunia kampus. "Saya ingin kembali ke kampus, ya kembali mengajar," tandas mantan Mendiknas ini. (ape/mad)











































