"Ini penting untuk membangun suasana rekonsiliasi dan memberi pembelajaran politik kepada publik," kata Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari saat berbincang dengan detikcom via telepon, Senin (19/10/2009).
Pelantikan presiden, kata Qodari, seharusnya tidak dilihat dari sudut pandang politik. Tetapi dalam sudut pandang kenegaraan.
"Ini di atas kompetisi politik. Karena SBY presidennya semua. Ya presidennya Golkar, presiden Demokrat, PDIP, dan presiden seluruh rakyat Indonesia," jelasnya.
Hanya saja, menurut Qodari, hadir tidaknya Megawati besok tidak bisa dibaca sebagai suatu sikap politik PDIP terhadap pemerintahan mendatang.
"Hadir nggak hadir, tidak menjadi indikator. Untuk pelantikan Presiden, kita harus melihatnya dengan perspektif kenegaraan," pungkasnya.
Hubungan Mega dan SBY tegang sejak SBY yang saat itu masih menjadi Menko Polkam mencalonkan diri menjadi calon presiden penantang Mega pada Pemilu Presiden 2004. Mega yang kalah dalam Pilpres 2004 pun tidak menghadiri pelantikan SBY. Mega juga tidak pernah memenuhi undangan sejumlah acara kenegaraan seperti acara 17 Agustus. Dalam Pilpres 2009, Mega kembali dikalahkan SBY.
(lrn/iy)










































