"Itu ketidakjelasan koalisi. Sekarang seenaknya merekrut partai lain, itu dinamakan politik perkulian," ujar pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit kepada detikcom, Jumat(16/10/2009).
Enam pimpinan partai politik, Kamis (15/10/2009) kemarin menandatangani kontrak politik di hadapan Wakil Presiden terpilih Boediono. Keenam parpol itu yakni Partai Demokrat (PD), PKS, PAN, PPP, PKB, dan Golkar. Saat Pilpres, Golkar mengajukan capres Jusuf Kalla (JK) tidak masuk dalam koalisi pendukung SBY.
Menurut Arbi, masuknya Golkar tidak hanya akan mengurangi jatah menteri, tapi juga menimbulkan ketidakadilan bagi parpol lain pendukung SBY. Apalagi kontrak politik itu tidak mengarah pada kerjasama sebab tidak jelas hak dan kewajiban masing-masing partai.
"Bukan hanya sekadar jatah menteri, ini masalah keadilan dan prinsip demokrasi. Itu tidak adil, permainan ini seperti perbudakan politik," kata Arbi.
(mpr/iy)











































