Tanggapan DPP yang mengatakan kritikan itu menyangkut kalah menang di Munas dianggap salah sasaran. Harusnya DPP menghargai perasaan kader yang sudah lama berkiprah dan berkontribusi terhadap Golkar.
"Respon yang disampaikan oleh sejumlah pengurus DPP Partai Golkar hasil Munas berkaitan dengan tanggapan terhadap sejumlah person pengurus terlalu emosional, berlebihan, dan di luar konteks masalah yang disampaikan," kata mantan anggota FPG Ferry Mursyidan Baldan dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Kamis (15/10/2009).
Ferry mengatakan, para kader Golkar tidak mempersoalkan terpilihnya Aburizal Bakrie (Ical) sebagai ketua umum yang berlangsung sesuai mekanisme organisasi. Namun yang dikritisi adalah masuknya sejumlah nama yang dianggap tidak sejalan dengan Golkar dan rekam jejaknya masih diragukan.
"Benar bahwa menurut AD/ART Golkar, ketua umum terpilih memiliki kewenangan merekrut figur di luar kader yang dianggap mampu memberi 'nilai' bagi Golkar. Yang diragukan adalah adanya sejumlah nama nonkader yang selama ini dikenal tidak menunjukkan sikap mencintai Golkar, bahkan dalam beberapa statemen-nya justru menyerang Golkar," kata Ferry.
Menurut Ferry, hal inilah yang harus direspon. Sebab hal ini menyangkut 'rasa bangga' sebagai kader Golkar, bukan melulu soal mekanisme. Pengurus baru Golkar harus menjaga dan tidak boleh menghilangkan rasa bangga dan militansi para kader dan simpatisan.
"Dan hal yang lebih 'aneh' dan 'konyol' lagi adalah ketika disampaikan bahwa komentar yang disampaikan adalah soal menang-kalah di Munas. Kader Golkar sudah terbiasa dan tidak pernah mempersoalkan dalam konteks kalah-menang," tegas Ferry.
Dalam kontesk pemilihan ketua umum, Ferry mempersilakan pengurus baru merasa menang. Tapi dia berpesan agar mereka tidak menganggap pihak lain sebagai orang kalah yang harus disingkirkan.
Soal menang kalah ini, lanjut Ferry, harus dipahami secara utuh. Jika melihat hasil pilpres, seharusnya pengurus Golkar sekarang melihat bahwa partai mereka berada dalam posisi 'kalah.'
"Karenanya jangan tampil seolah jadi bagian dari pemenang, karena tugas pengurus Golkar justru harus menghormati pemenang pilpres, jangan justru merasa diri menjadi pemenang," tegas Ferry.
(sho/iy)











































