Ungkapan ini dilontarkan pengamat transportasi Bambang Susantono dalam peluncuran bukunya di sebuah toko buku di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, (15/10/2009).
"Sungguh ironis bukan?," katanya singkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akibat banyaknya operator individu, kita tidak punya angkot yang nyaman. Dulu, kita punya, waktu orde lama. Sekarang diserahkan ke pasar. Akhirnya ya, my way," tambahnya.
Akibat kusutnya sistem transportasi, masyarakat akhirnya memilih menggunakan sepeda motor. Maraknya pengendara motor karena ketidakmampuan pemerintah menyediakan angkutan umum yang nyaman.
"Akhirnya dipilihlah motor yang praktis dan murah," tambahnya.
Menurut pakar komunikasi, Effendi Ghazali, masyarakat juga telah kecewa dengan busway yang dulu memberi harapan. Pada awalnya, harapan masyarakat meningkat ketika operasional busway berjalan. Tapi nyatanya perawatan tidak ada, halte rusak dan sebagainya.
"Jangan terlalu percaya pada komunikasi jika performance tidak ada. Nantinya yang muncul adalah kekecewaan," paparnya.
(asp/mok)











































