Untuk memiliki jaringan kereta bawah tanah yang rapi seperti sekarang, ternyata Berlin sudah merintisnya sejak 1896. Saat itu yang dibangun adalah rel kereta fly over untuk menghindari kemacetan dari Tram dan kendaraan lain.
Jalur kereta bawah tanah atau Untergrundbahn (U Bahn) pertama dibangun pada 1910 dan seabad kemudian sudah menjelma menjadi 10 jalur trayek. Hari ini, 10 trayek U Bahn diperkuat dengan 15 trayek S Bahn (KRL reguler ala Jabotabek) menjadi sebuah sistem transportasi yang terpadu di Berlin. U Bahn Berlin dikelola perusahaan BVG dan S Bahn dikelola Deutsche Bahn (PTKA Jerman).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akses masuk pun dibuat lurus-lurus saja di setiap ujung stasiun. Tidak ada lorong berkelok-kelok seperti Metro Paris. Akses orang cacat berupa lift tersedia di hampir seluruh stasiun. Penumpang tinggal mencari logo U berwarna biru, maka disitu ada akses masuk U Bahn baik tangga, eskalator ataupun lift.
Ketepatan waktu dan kecepatan U Bahn menjadi andalan. Kereta datang rata-rata setiap 4 menit dalam jam sibuk. Selain U Bahn pun beroperasi 24 jam, tentu saja dengan interval yang lebih lama di malam hari.
Gerbong U Bahn dengan warna khas kuning cukup lega dan nyaman dengan tempat khusus untuk orang cacat, kereta bayi dan yang membawa sepeda. TV kecil tersedia dan merupakan infomedia mulai dari iklan sampai ramalan cuaca. Hanya sayangnya, gerbong kereta tidak luput dari corat-coret penumpang jahil.
Tiket bisa diperoleh dari mesin seperti ATM dan harganya dibagi dalam 3 zona A, B dan C. Tiket sekali jalan zona A-B harganya 2,10 Euro (Rp 32 ribu) dan tiket seharian dibandrol 6,10 Euro (Rp 92 ribu). Jika bepergian sampai zona C atau luar kota Berlin, harganya tentu lebih mahal sedikit. Selain itu, tersedia juga tiket abonemen bulanan.
Untuk menuju peron stasiun U Bahn, tidak ada semacam pintu putar seperti Metro Paris atau halte Transjakarta. Praktis memang, tapi kondisi ini sangat rawan dimanfaatkan penumpang gelap tanpa tiket. Untuk itu, petugas BVG berpakaian preman kerap berpatroli.
βFahrscheine bitte! (Tolong tiketnya!),β teriak petugas BVG tiba-tiba dalam penyamaran sebagai penumpang. Para penumpang gelap bisa didenda 40 Euro (Rp 600 ribu).
Namun di sisi lain, kondisi peron tanpa portal juga dimanfaatkan sebagian orang. Mirip suasana KRL di tanah air, terkadang pengemis, pengamen atau pengasong koran masuk ke dalam U Bahn untuk mencari rezeki. Namun memang hanya satu dua saja.
(fay/lrn)











































