Seperti diketahui, di Laut Timor terdapat kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), termasuk paus, lumba-lumba, tuna, dan juga penyu diketahui melewati kawasan terdampak tersebut. Yang mengkhawatirkan, daerah tumpahan tersebut dekat dengan kawasan lindung laut terbesar di Indonesia, yaitu Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu.
“Kami mengharapkan Pemerintah Indonesia segera berkoordinasi dengan Pemerintah Australia untuk mengatasi masalah ini. Montara perlu mengambil tindakan penanganan segera untuk mengatasi kebocoran ini karena sangat merugikan masyarakat dan lingkungan,” kata Direktur Program Kelautan WWF-Indonesia Wawan Ridwan dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (15/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nelayan Terancam
Pihak yang paling terancam dalam waktu dekat adalah sedikitnya 7000 nelayan di pesisir selatan Nusa Tenggara Timur, dan komoditi perikanan sebesar 130.000 ton/tahun, yang terdiri dari berbagai macam komoditi perikanan dan rumput laut hasil budidaya.
“Lebih jauh lagi adalah kerugian atas investasi Indonesia dalam bentuk kawasan lindung, karena biaya rehabilitasi bila kebocoran mencapai kawasan terumbu karang di KKPN Laut Sawu akan sangat besar,” lanjut Ridwan.
Hampir 2 bulan setelah kebocoran terjadi, kepala sumur pengeboran minyak tetap belum tertutup setelah upaya menyumbatnya minggu ini mengalami kegagalan. Bahan berbahaya terus menyebar, dengan sedikitnya kawasan seluas sedikitnya 6.000 km persegi telah terkena.
The Coral Triangle, yang meliputi lautan seluas 6 juta km persegi mencakup kawasan perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste, adalah rumah bagi enam dari tujuh jenis penyu, yang selama ini diketahui bermigrasi dari kawasan ini ke Australia.
WWF Australia dan sebuah tim ahli ekologi kelautan independen telah mengadakan survey hidupan liar di kawasan Laut Timor yang terdampak kebocoran ladang minyak Montara tersebut.
Gilly Llewellyn, Direktur Konservasi WWF Australia, memimpin tim peneliti mengkaji jumlah dan keadaan hidupan liar yang ditemukan di kawasan terdampak tersebut.
“Hampir dua bulan setelah kebocoran itu dimulai, minyak terus menyebar ke samudera,” kata Llewellyn.
“Karena tumpahan ini tidak terjadi di hadapan kita, bukan berarti kita bisa mengabaikannya. Kita harus melawan mitos bahwa tumpahan minyak hanya akan berdampak pada hidupan liar laut ketika itu mencapai pantai,” tegasnya.
Karena banyaknya infrastruktur perusahaan minyak dan gas yang terus tumbuh dalam kawasan, Llewellyn meminta perusahaan memperhitungkan ancaman kebocoran.
"Kita harus memastikan bahwa ancaman nyata kebocoran lainnya harus diperhitungkan,” pungkasnya.
(lrn/ddt)











































