"Ini sangat mengagetkan. Epistemologi UIN itu kan sangat jauh dari ideologi kekerasan. Jika memang benar ada mahasiswa UIN yang terlibat, ini benar-benar mengejutkan," kata peneliti terorisme yang juga staf pengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Agus Maftuh Abegebriel, saat dihubungi detikcom, Rabu (14/10/2009).
Menurut Agus, hal semacam ini perlu diwaspadai oleh kalangan kampus. Sebab jika UIN yang akrab dengan wacana agama dan selama ini dikenal antiradikalisme saja bisa dimasuki teroris, apalagi kampus lain. "UIN yang tiap harus ngurusin agama saja bisa dimasuki, apalagi kampus yang lain," kata penulis buku Negara Tuhan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini ada kaidah, meski belum teruji, bahwa merekrut orang yang ilmu agamanya kurang lebih mudah ketimbang orang yang agamanya sudah mapan. Rekrutmen ditujukan kepada mahasiswa yang masih belajar agama Islam," ungkap pria yang telah meneliti terorisme selama 10 tahun ini.
Peshawar Circle
Menurut Agus, asal-usul terorisme bermula dari sebuah wilayah di Pakistan bernama Peshawar. Tempat itu dulunya digunakan sebagai pusat mobilisir para militan dari seluruh dunia guna melawan Uni Soviet pada dekade 80/90-an.
Para militan dari berbagai negara seperti AS, Inggris, Mesir, Yaman, Indonesia dan lain-lain mengirimkan utusannya ke sana. Di antara utusan dari Indonesia itu ada Hambali dan Imam Samudra. Para militan itu lantas dididik untuk berperang.
"Setelah Uni Soviet hancur para militan ini nggak ada yang ngurusi. Mereka lalu nyebar. Ada yang tetap di Pakistan, ada yang pulang ke negara masing-masing seperti Imam Samudra dan Hambali. Di sana lalu mereka membuat keonaran," tutur Agus.
Agus menambahkan, para militan yang pernah berkontak langsung dengan Pakistan inilah yang lebih berbahaya. Dibandingkan Noordin M Top yang bagi Agus hanya 'anak-anak,' para alumnus Peshawar Circle ini jauh lebih tangguh.
"Yang masih tanda tanya bagi saya di manakah Arif Sunarso alias Zulkarnain sekarang berada. Pria asal Sragen ini seniornya Noordin, jauh lebih expert dan berbahaya karena alumnus Peshawar. Sampai sekarang belum tertangkap," kata Agus.
Noordin, beserta Syaifudin Zuhri dan Syahrir, menurut Agus, masih keroco. Dari segi operasinya saja Noordin banyak melakukan kesalahan dan tidak sesuai dengan SOP yang ditetapkan Al Qaeda.
"Noordin melanggar rambu-rambu Al Qaeda. Contohnya dia tertangkap dalam kondisi berjenggot panjang. Seharusnya dia kelimis karena di Indonesia belum terbiasa dengan budaya jenggot," terang Agus.
Dalam buku rahasia yang menjadi standar operasi Al Qaeda, diatur bahwa seorang operator (disebut ikhwan) harus menyesuaikan dengan kondisi setempat. Jika di Indonesia belum biasa dengan budaya jenggot misalnya, mereka harus menghindari berjenggot.
"Selain itu dia juga seharusnya tidak boleh kawin dengan wanita bercadar karena itu akan membahayakan operasi dia. Tempat tinggalnya juga seharusnya di kota, nggak boleh di kampung biar operasinya cepat. Dan nggak boleh di lantai lebih dari 3, harus di bawah lantai 3 supaya bisa cepat lari. Itu SOP mereka. Saya heran melihat Noordin, ini masa Al Qaeda kok bodoh banget," tutur Agus.
(sho/nrl)











































