Kontroversi Saat Pertama Merah Putih Berkibar di Everest

Pendaki Everest Masuk RSJ

Kontroversi Saat Pertama Merah Putih Berkibar di Everest

- detikNews
Selasa, 13 Okt 2009 05:34 WIB
Kontroversi Saat Pertama Merah Putih Berkibar di Everest
Jakarta - 26 September 1996, untuk pertama kalinya merah putih berkibar di ketinggian 8.848 dpl, puncak tertinggi dunia. Clara Sumarwati yang berjasa membawanya.

Selain membentangkan merah putih, Clara juga memamerkan sampul majalah Time yang bergambar Soeharto.

Namun dalam foto tersebut, tidak tampak jelas wajah Clara. Masker oksigen dan kacamata pelindung menutup rapat wajahnya. Tidak tampak juga kaki tiga tanda puncak tertinggi everest.

Hal inilah yang menimbulkan kontroversi, Clara dituduh tidak pernah mencapai puncak Everest. Atau, pendaki yang mencapai puncak Everest tersebut bukan Clara.

Benarkah Clara telah mencapai puncak Everest?

Berdasarkan everesthistory.com, situs yang memuat nama-nama pendaki puncak tertinggi tersebut, Clara tercatat telah menggapai puncak tertinggi Everest pada tanggal 26 September 1996. Lima orang sherpa (guide), yang mendampingi Clara selama pendakian juga tercatat mencapai puncak. Mereka adalah Ang Gyalzen, Chuwang Nima, Dawa Tshering, Gyalzen, dan Kaji.

Sejumlah buku seperti Everest karya Walt Unsworth (1999), dan Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (1999), juga mencatat prestasi Clara.

Hal ini cukup untuk membuktikan Clara sebagai orang Indonesia pertama yang mencapai puncak. Namun polemik terus berkembang. Diduga hal inilah yang diduga membuat Clara depresi.

Pendakian Clara begitu dipermasalahkan karena Clara adalah pendaki pertama yang mencapai puncak Everest. Merupakan mimpi semua tim pendaki Indonesia untuk menjadi yang pertama mencapai Everest.

Seandainya Clara menjadi yang kedua atau yang ketiga, mungkin tidak akan terlalu dipersoalkan. Tapi dia adalah orang Indonesia pertama yang menaklukan Everest. Mendahului tim Kopassus dan pendaki pria yang saat itu lebih dijagokan.   

Wanita berusia 44 tahun ini kini dirawat di (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang, Jawa Tengah. Keluarga dan lingkungannya menolak Clara kembali ke tengah-tengah mereka. Namun, wanita yang mendapat Bintang Nararya dari pemerintah ini masih menyimpan harap untuk kembali membawa merah putih ke pucak-puncak tertinggi dunia.

(rdf/fiq)



Berita Terkait