Dugaan mengenai penyebab kondisi kejiwaan Clara itu disampaikan oleh dokter yang merawatnya, Haryono Padmo Sudiro Spk, di RSJ Prof Soerojo, Magelang, Jawa Tengah, Senin (12/10/2009).
โPemicunya antara lain dia punya prestasi mendaki Mount Everest, tetapi dia merasakan kurang dihargai oleh lingkungan. Dia tidak dihargai bahwa pernah ke sana," ungkap Haryono.
Menurut Haryono, kekesalan tersebut menimbulkan rasa frustasi pada diri Clara. Terlebih hal itu dialami secara berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan dimusuhi orang lain. "Diaran-arani orang kalau istilah Jawanya," ujar Haryono.
Haryono menepis dugaan gangguan jiwa Clara disebabkan faktor keturunan. Menurut Haryono, tidak ada keluarga Clara yang mempunyai riwayat mengidap penyakit jiwa. Selain itu, faktor keturunan persentasenya juga sangat kecil.
Haryono menambahkan, kekecewaan itu memang bisa menjadi pencetus. Namun dia menduga, kondisi keluarga dan lingkungan Clara juga tidak baik terhadap kondisi kejiwaannya.
Hal lainnya yang juga bisa menjadi penyebab adalah sejumah peristiwa dalam proses pendakian yang dialami Clara. Menurut Haryono, Clara mengaku sempat membuka alat pernapasan saat berada di puncak Everest.
"Itu merupakan faktor ketegangan-ketegangan yang bisa menimbulkan orang tension atau coincident, yaitu mengalami kejadian yang menakutkan. Sebab kekurangan oksigen menyebabkan rasa nyeri yang tidak karuan," ungkap Haryono.
Namun, sambung Haryono, masalah tersebut bukan faktor utama penyebab labilnya kejiwaan Clara. "Tumpukan kekecewaan, tumpukan situasi yang membuat tegang, konflik-konflik dan sejenisnya, ditambah perhatian yang diberikan oleh keluarga dan lingkungan sangat kurang bagi Clara, menjadi faktor utama," tegas Haryono. (djo/djo)











































