Dilahirkan di Batavia (Betawi) pada 21/11/1937, Bot adalah anak seorang ambtenaar, diplomat dan juga menteri kabinet di Nederlands-Indie (Hindia Belanda) Theo Bot.
Dalam pidato hari Senin (15/8/2005) di depan Tweede Kamer (parlemen Belanda) Menlu Bot menyampaikan rencana keputusannya dan mempertahankannya dalam debat bahwa pemerintah Belanda secara moral dan politik mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17/8/1945.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pidato bersejarah Bot itu menjadi titik perubahan karakter hubungan bilateral Belanda-Indonesia. Anak Betawi ini dinilai berani mengambil risiko, yang belum pernah dilakukan oleh menteri kabinet manapun dari para pendahulunya.
Sebelumnya hubungan kedua negara masih dibayangi romantika kolonial di mana Belanda hanya mengakui Indonesia merdeka setelah soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) 27/12/1949, yang diteken oleh Ratu Juliana.
Sukses memperoleh dukungan kuat dengan meyakinkan parlemen dan veteran, Bot menegaskan kebijakannya tersebut dengan secara fisik datang menghadiri upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-60 di istana negara, Jakarta, pada 17/8/2005
Partij van de Arbeid/PvdA (Partai Buruh), Christen Democratisch Appel/CDA (Kristen Demokrat), Volkspartij voor de Vrijheid en Demodratie/VVD (Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi), GroenLinks dan Socialistische Partij/SP (Partai Sosialis) mendukung Bot dan berpendapat bahwa masalah hari kemerdekaan Indonesia sudah selesai dan selanjutnya Belanda akan ikut merayakan HUT RI pada 17 Agustus.
(es/es)











































