"Memang secara psikologis mereka sudah terpukul sehingga sisa-sisanya sebagian ada yang menyerah dan yang lain lagi ditembak dan ditangkap dengan mudah," kata pengamat intelijen Wawan Purwanto dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (10/10/2009).
Selama ini para teroris beranggapan bahwa Noordin M Top mempunyai kelebihan tertentu sehingga lebih dari 9 tahun selamat dari kejaran polisi. Namun tertembaknya gembong teroris nomor wahid asal Malaysia ini membuat keyakinan para teroris menjadi goyah.
"Mereka selama ini yakin Noordin punya kelebihan dan ternyata bisa dilumpuhkan, sehingga ibaratnya mereka kehilangan payung pengayom," kata Wawan.
"Dari segi mental, mereka jatuh," imbuhnya.
Pascatewasnya Noordin dan Syaifudin, lanjut Wawan, gerakan terorisme di Indonesia masih akan terus ada. Para perakit bom juga diperkirakan masih banyak dengan kualitas tidak jauh beda dengan para teroris pendahulu yang telah tewas tertembak.
"Perakit bom masih banyak, karena tidak susah dan bukan hal yang sulit membuat bom itu. Mudah saja ditularkan secara manual."
Hal inilah, menurut Wawan yang harus terus diwaspadai tidak cuma oleh kepolisian. Melainkan oleh semua rakyat Indonesia untuk terus mewaspadai gerakan terorisme.
"Ini yang membikin dorongan kita semua untuk waspada, tidak boleh menepuk dada bahwa teroris sudah selesai. Ini adalah perjalanan panjang," kata Wawan menutup pembicaraan.
(anw/anw)











































