"Saya benar-benar kaget. Orang Fajar itu anaknya baik. Sopan juga sama yang lebih tua. Kalau ketemu di jalan, dia pasti menegur duluan," kata Makmuri, Ketua RT 06, yang tinggal tidak jauh dari rumah orang tua Fajar, Jumat (9/10/2009).
Makmuri mengaku sama sekali tidak mengetahui jika ada anggota Densus 88 datang ke lingkungan mereka untuk menangkap Fajar. Dia baru mengetahui berita itu dari siaran televisi, pascatewasnya Syaifudin Zuhri dan Syahrir di Ciputat, Tangerang.
"Gak ada penangkapan di sini. Kalau ada, warga pasti tahu. Makanya saya kaget waktu polisi bilang Fajar ditangkap di rumahnya," ujar Makmuri.
Menurut Makmuri, Fajar adalah putra pertama dari tiga saudara. Dia pernah kuliah di sebuah kampus di kawasan Ciputat. Bahkan, semenjak menikah, Fajar tinggal bolak balik antara Bekasi dan Ciputat. "Anaknya sudah dua. Usia balita dua-duanya," kata Makmuri.
Sementara teman kecil Fajar, Lutfhi juga tidak percaya jika Fajar adalah anggota jaringan teroris. Sebab, selama bergaul tidak terlihat sikap radikal dari diri Fajar. "Cuma dia memang taat dalam beribadah," kata Luthfi.
Lutfhi memperkirakan Fajar berusia antara 26-30 tahun. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan memiliki kulit putih bersih. Namun, semenjak menikah, Lufthi jarang bertemu atau berkomunikasi dengan Fajar.Sebab yang bersangkutan lebih banyak tinggal di Ciputat.
Sejak Fajar ditangkap, rumah orangtuanya langsung sepi. Tidak terlihat lagi
aktivitas para penghuninya. Padahal, sebelumnya warga masih melihat Pak Herman yang bekerja di RSCM dan istrinya yang berprofesi sebagai guru.
Rumah orangtua Fajar berada di dalam sebuah gang yang tidak terlalu besar.
Dindingnya ditempeli keramik warna putih dan memiliki pagar berwarna hitam. Stiker bertulisan Islam is the best juga tertempel di pintu rumah tersebut.
(anw/anw)











































