Menurut politisi PPP Lukman Hakim Saefudin, hijrahnya tempat persembunyian teroris dari wilayah pinggiran yang sepi penduduk ke wilayah padat penduduk, bukan dikarenakan penduduk kota yang terlalu individual. Tetapi karena sistem nomor induk kependudukan (NIK) di Indonesia yang tidak jelas.
"Di kota-kota mana pun, masyarakat kota memang persoalannya seperti itu. Menurut saya, nomor kependudukan ini yang harus dibenahi. Kenapa kota-kota di Malaysia dan Singapura terorisme tidak tumbuh, ya karena ini tadi. Data kependudukan yang dobel-dobel memungkinkan mereka (teroris) tumbuh subur di Indonesia," jelas Lukman saat berbincang dengan detikcom melalui telepon, Jumat (9/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai," tegas Lukman yang pernah duduk di Komisi Hukum (Komisi III) ini.
Lukman berharap penerapan Single Identity Number (SIN) harus dilakukan secepatnya. "Tidak boleh ada warga negara yang mempunyai NIK ganda, mau namanya sama yang penting nomor kependudukan harus sama, sehingga 220 juta penduduk Indonesia bisa dideteksi," pungkasnya.
(nvc/nrl)











































