"Sebagian besar bangunan yang roboh atau miring cenderung mengarah ke episenter gempa yang ada di laut," kata Ketua Tim Studi Gempa dan Longsor Teknik Geologi UGM, Prof. Dr. Dwikorita Karnawati kepada wartawan di kampus UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (8/10/2009).
Menurut Dwikorita, kerusakan akibat gempa di Padang berbeda dengan dampak gempa di Yogyakarta 27 Mei 2006 lalu. Kerusakan yang terjadi dataran aluvial di Padang tidak menunjukkan sebaran pola tertentu yang dikontrol oleh kondisi tanah atau kondisi geologi.
"Kerusakan justru tampak lebih dikontrol oleh kondisi konstruksi bangunan," katanya.
Hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan diketahui wilayah yang terkena dampak gempa bumi dapat dibedakan menjadi 2 wilayah utama. Pertama, dataran dataran aluvial dan wilayah perbukitan keras.
Dataran aluvial mencakup Kota Padang hingga Kota Pariaman, yang mengalami banyak kerusakan bangunan akibat goncangan gempa. Wilayah ini tersusun oleh endapan yang bersifat lepas, berupa lempung, lempung pasiran dan pasir kerikilan. Karena sifat lepas pada butiran tanah penyusun dataran aluvial tersebut.
Saat terjadi gempabumi, getaran gelombang gempa mengalami komplikasi menjadi rambatan permukaan yang bersifat mengayun, baik ke arah vertikal maupun ke arah horisontal, yang akhirnya mengakibatkan kerusakan dan robohnya bangunan.
Sedang wilayah perbukitan keras, meliputi areal Perbukitan Barisan dari Padang Panjang hingga Solok. Areal ini banyak mengalami longsor akibat gempa bumi.
Perbukitan tersebut tersusun oleh batuan beku vulkanik dan batuan metamorf. Wilayah ini merupakan perbukitan yang terbentuk oleh patahan aktif yang dikenal dengan nama sesar Semangko. Di dalam zona patahan tersebut batuan penyusun perbukitan ini juga terpotong-potong oleh retakan-retakan batuan dan bersifat rapuh.
"Akibatnya, saat diguncang oleh gempa bumi, banyak terjadi runtuhan, jatuhan dan luncuran batuan pada lereng perbukitan Barisan, terutama yang dilalui oleh jalur patahan," katanya.
Tim UGM merekomendasikan beberapa titik longsor tanah seperti di dua dusun, yaitu Dusun Pulo Koto dan Lubuk Lawe di Desa Cumanak, Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman ditutup selama hujan. Hal ini untuk menghindari jatuhnya korban bila ada gempa dan longsor susulan. Sebab lereng batuan yang longsor merupakan lereng yang diperkirakan berada di jalur patahan. Kemiringan lereng berkisar antara 30 sampai 40 derajat.
"Kondisi tanah di zona patahan tersebut sangat rapuh, dan masih berpotensi untuk longsor lagi, apabila diguncang gempa atau terguyur oleh hujan deras," katanya.
Lokasi longsor lainnya yang perlu diwaspadai adalah di tebing ruas jalan Malalak menuju ke Bukit Tinggi, yang tersusun oleh batuan beku andesit yang terutup oleh batuan volkanik berupa tuf pumisan, yang telah lapuk menjadi tanah lempung pasiran yang bersifat sangat porus dan lolos air. Kemiringan lereng tebing ini berkisar antara 40o hingga 60 derajat
Akibat curamnya lereng dan rapuhnya kondisi tanah, maka saat gempa terjadi, luncuran tanah dengan bongkah-bongkah batuan terjadi. Zona yang mengalami luncuran tanah tersebut mencapai sepanjang 2 km. "Luncuran tersebut juga telah mengakibatkan sebagian ruas jalan terutup," pungkas dia.
(bgs/djo)











































