"Dari puluhan korban yang mengadu ke kami, korban dari berbagai kalangan. Dan jenis kelaminnya ternyata tak cuma ibu-ibu. Bapak-bapak yang biasanya tak konsumtif juga banyak yang termakan," kata Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Huzna Zahir saat dihubungi detikcom, Kamis, (8/10/2009).
Dari aduan tersebut, biasanya korban sadar ketika sudah sampai rumah. Seperti orang linglung, korban sadar setelah diprotes anggota keluarga karena harga barang tak masuk akal. Terlebih, ternyata harga diskon juga tak cocok dengan kualitas barang. "Pembeli dibujuk dengan bahasa yang berbusa-busa," tambahnya.
Penjual sengaja menekan secara psikologis dengan memaksa. Biasanya mereka beraksi di pusat perbelanjaan dengan 4 hingga 5 orang sekaligus yang memaksa secara halus. Akhirnya pembelipun tidak bisa berpikir secara rasional apakah barang tersebut berguna atau bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari.
"Masyarakat jika mendapat perlakuan seperti ini harus bisa rasional. Menolaklah dengan tegas jika perlu," pungkasnya.
(asp/gah)











































